Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Menurut Lapangan Usaha Terhadap Penyediaan Lapangan Kerja, Kemiskinan dan Kesejahteraan Masyarakat di Provinsi Lampung

10

Pertumbuhan ekonomi merupakan  satu di antara isu-isu  penting dalam pembangunan ekonomi, terutama untuk negara-negara berkembang, di mana belum tercapai  secara optimal penggunaan SDA dan SDM serta  masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk,. Namun SDA yang kaya dan SDM yang banyak jumlahnya, bukan jaminan untuk berhasilnya suatu  pembangunan ekonomi Peranan masyarakat, pemerintah, kegiatan-kegiatan ekonomi seperti investasi dan  ekspor sangat menentukan dalam peningakatan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Dari penelitian ini yang dilakukan di Provinsi Lampung dengan mengamati PDRB menurut lapangan usaha yang meliputi sektor (1) Pertanian, (2) Pertambangan dan Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4) Listrik, Gas & Air Minum, (5) Konstruksi, (6) Perdagangan, (7) Pengangkutan dan Komunikasi, (8) Keuangan, Real Estate dan Jasa (9) Perusahaan, Jasa-jasa. Dari penelitian ini dengan menggunakan analisis regresi berganda (ordinary Least Square=OLS) diperoleh nilai F sebesar 13,036 (sign F 0,029) maka diketahui bahwa Sektor-sektor perekonomian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah penduduk miskin di Propinsi Lampung. Sektor-sektor perekonomian ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan variabel kemiskinan (R=0,986), dan mempengaruhi variabel kemiskinan 97,2 persen. Dari 9 sektor perekonomian tersebut, ternyata sektor pengangkutan dan komunikasi yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemiskinan (F=4,808), dengan kekuatan hubungan yang sedang (R=69,8 persen)…  Variabel lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan, (F=6,70).  Dan mempengaruhi perubahannya sebesar 59,9 persen.

Keyword : Pertumbuhan ekonomi, sektor perekonomian, Kemiskinan, lapangan pekerjaan, kesejahteraan

1.      Pendahuluan

Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, dan sebagai gerbang Sumatera dengan ibukota Bandar Lampung, yang merupakan gabungan dari kota kembar Tanjungkarang dan Telukbetung. Otonomi daerah provinsi Lampung merupakan era baru bagi  pembangunan ekonomi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Namun, pembangunan ekonomi tidak  mungkin  hanya diandalkan pada sumber-sumber daya alam yang kaya, tanah yang subur,  letak geografis yang strategis, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Pembangunan ekonomi adalah perubahan mendasar dalam struktur ekonomi. Meningkatnya sumbangan industri dalam GDP/turunnya sumbangan pertanian, meningkatnya prosentase penduduk tinggal didaerah perkotaan, menurunnya tingkat pertumbuhan penduduk, meningkatnya GDP tanpa menciptakan inflasi. Kondisi ini tampak pada skala makro (macroeconomics) sebagai indikasi peningkatan stok modal. Pembangunan mencakup gagasan mengukur kesejahteraan manusia : tingkat kemiskinan, kemiskinan absolute, kemiskinan relative, ketidakmerataan, Teori perubahan struktural berkaitan dengan kebijakan-kebijakan fokus  pada perubahan struktur ekonomi dari negara-negara berkembang dari sektor primer pertanian subsisten ke suatu ekonomi modern dan lebih bermacam-macam industri pengolahan dan jasa. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja belum memecahkan isu yamg berkembang dalam pembangunan ekonomi. Perhitingan pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan tiga pendekatan  yaitu : pendekatan Produksi, pendekatan Pengeluaran, dan pendekatan Pndapatan. Perhitungan  pertumbuhan ekonomi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah  PDB atau PDRB dihitung dengan pendekatan produksi menghitung nilai tambah yang diciptakan dalam 9  Lapangan Usaha yaitu : (1) Pertanian, (2) Pertambangan dan Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4) Listrik, Gas & Air Minum, (5) Konstruksi, (6) Perdagangan, (7) Pengangkutan dan Komunikasi, (8) Keuangan, Real Estate dan Jasa (9) Perusahaan, Jasa-jasa. Lebih lanjut perrtumbuhan ekonomi ini tidak secara langsung mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena pada kenyataannya jumlah pengangguran dan penduduk miskin di Provinsi ini tetap tinggi.

Rumusan Masalah :

Apakah terdapat pengaruh antara sektor-sektor perekonomian menurut lapangan usaha terhadap tingkat kemiskinan, penyediaan lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Lampung ?

Tujuan Penelitian :

Untuk menganalisis lebih lanjut pengaruh dari sektor-sektor perekonomian menurut lapangan usaha terhadap tingkat kemiskinan, penyediaan lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Lampung, sekaligus mengamati sektor-sektor mana saja yang berperan besar dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat di Propinsi Lampung.

Landasan Teori :

Prof. Simon Kuznets dalam kuliahnya pada Peringatan Nobel mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai “kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya; kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan ideologis yang diperlukannya. Definisi ini memiliki 3 (tiga) komponen : pertama, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dan meningkatnya secara terus menerus persediaan barang; kedua, teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang menentukan derajad pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam barang kepada penduduk; ketiga, penggunaan teknologi secara luas dan efisien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan ideologi sehingga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan ummat manusia dapat dimanfaatkan secara tepat. Teknologi modern misalnya, tidak cocok dengan corak/kehidupan desa, pola keluarga besar, usaha keluarga, dan buta huruf.

Ciri-ciri Pertumbuhan Ekonomi Modern

M.L. Jhingan. (1996 : 72-84) pertumbuhan ekonomi modem merupakan pertanda penting di dalam kehidupan perekonomian. Pertumbuhan ekonomi modern terlihat dari semakin meningkatnya laju produk per kapita terutama sebagai akibat adanya perbaikan kualitas input yang meningkatkan efisiensi atau produktivitas per unit input. Hal ini dapat dilihat dan semakin besarnya masukan sumber tenaga kerja dan modal atau semakin meningkatnya efisiensi, atau kedua-duanya.

Mankiw N. Gregory (2009 : 45) menyatakan bahwa variabel makroekonomi paling penting adalah Produk Domestik Bruto (PDB). PDB untuk mengukur total barang dan jasa dan pendapatan total suatu negara.

Teori Kesempatan Kerja dan Penganguran

Sumitro Djojohadikusumo. (1994 : 205-209) Secara umum golongan tenaga kerja menyangkut bagian penduduk yang termasuk tingkat usia 15 tahun-64 tahun. Dalam pengertian angkatan kerja harus diperhitungkan tingkat partisipasi dalam kegiatan ekonomi di antara jumlah tenaga kerja untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin. Pertambahan penduduk dan angkatan kerja di satu pihak dan laju serta arah investasi di pihak lain mempengaruhi perluasan kesempatan kerja dan pengangguran. Bertambahnya angkatan kerja pada dirinya mempengaruhi tingkat upah nyata maupun pembagian pendapatan masyarakat. SeIain itu, pertambahan penduduk dan angkatan kerja serta tingkat fertilitas mempengaruh tingkat tabungan dan tingkat investasi yang diperlukan oleh masyarakat yang sedang membangun. Satu sama lain tidak lepas dari pola pengeluaran konsumsi. Di mana pendapatan per kapitanya rendah dan tertekan, maka lebih banyak pengeluaran yang secara nisbi dilakukan untuk komponen kebutuhan pangan. Dengan kata lain, masalah kesempatan kerja dan pengangguran (secara terbuka maupun terselubung) langsung berkaitan dengan keadaan kemiskinan absolut dan tingkat hidup yang rendah dan tertekan. Perluasan kesempatan kerja dan penciptaan lapangan kerja produktif harus dilaksanakan dengan meluaskan landasan kegiatan ekonomi. Hal itu harus disertai dengan usaha meningkatkan produktivitas, baik di bidang kegiatan yang baru (modern) maupun di bidang tradisional. Salah satu faktor yang menghambat produksi di negara-negara berkembang dan menekan tingkat hidup golongan berpendapatan rendah ialah produktivitas yang rendah. Peningkatan produktivitas harus diartikan sebagai kenaikan hasil produksi per unit yang diperoleh dari kombinasi semua sarana produksi yang digunakan dalam proses produksi. Dalam PDRB produktivitas ini tergantung pada sektor-sektor perekonomian yang memjadi lapangan usaha. Adapun sektor-sektor tersebut meliputi (1) Pertanian, (2) Pertambangan dan Penggalian, (3) Industri Pengolahan, (4) Listrik, Gas & Air Minum, (5) Konstruksi, (6) Perdagangan, (7) Pengangkutan dan Komunikasi, (8) Keuangan, Real Estate dan Jasa (9) Perusahaan, Jasa-jasa. Menurut para ahli, kemiskinan itu bersifat multi dimensional. Artinya, karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam, maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek. Dilihat dari kebijakan umum, maka kemiskinan meliputi aspek primer yang berupa miskin akan aset, organisasi sosial politik, dan pengetahuan serta ketrampilan; dan aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat, perawatan kesehatan yang kurang baik, dan tingkat pendidikan yang rendah.

METODOLOGI PENELITIAN

Data yang dipergunakan adalah data primer yang berasal dari pengamataan langsung pada objek penelitian dan data sekunder berupa data-data pertumbuhan PDRB  dan  sektor-sektor perekonomian menurut lapangan usaha.  Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda, dengan menggunakan metode Orinary Least Square (OLS). Dimana metode ini hanya dapat berlaku jika asumsi-asumsi dasarnya terpenuhi. Yaitu menyebar secara normal, heteroskedasastisitas, multikolinieritas, autokorelasi dan independen.

No Variabel Dimensi Indikator Skala pengukuran
1 PDRB Lapangan Usaha Besarnya PDRB lapangan usaha (milyar rupiah) Tingkat pertumbuhan PDRB lapangan usaha Rasio/persentase
8 Lapangan Kerja Besarnya lapangan kerja (jumlah orang) Tingkat pertumbuhan lapangan kerja Rasio/persentase
9 Kemiskinan Jumlah orang miskin Tingkat penurunan kemiskinan Rasio/persentase
10 Kesejahteraan Masyarakat Kemampuan pelayanan pendidikan dan kesehatan Tingkat pertumbuhan pendidikan dan kesehatan Rasio/persentase

Sementara uji hipotesis menggunakan uji – t untuk menguji pengaruh variable secara parsial serta uji – F untuk menguji pengaruh variabel secara serempak dengan alfa atau error 5%.

Variabel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah variabel PDRB menurut lapangan usaha ( Y1-Y9) ) Lapangan Kerja ( Z1 ), Kemiskinan (Z2)   danvariabel Kesejahteraan Masyarakat (Z3) 

Tabel 1 Operasional Variabel

Model regresi yang digunakan

Pengaruh simultan dan parsial dari variabel Y1-Y9 terhadap Z1

Z1= a + b1Y1 + b2Y2 + …+ b9Y9

Pengaruh simultan dan parsial dari variabel Y1-Y9 terhadap Z2

Z2 = a + b1Y1 + b2Y2 + …+b9Y9

pengaruh simultan dan parsial dari variabel Z1 dan

Z2 terhadap Z3. dimana Z3  = a +b1Z1 + b2Z2

Hipotesis yang dipergunakan untuk melakukan pengujian antar variabel

Hipotesis nol dan alternatifnya untuk uji hipotesis secara simultan :

H0.j : β1j = β1j = …= βij = 0 :

H1.j : β1j = β1j = …= βij ≠ 0:

Ho diterima artinya semua koefisien adalah sama dengan nol,

Ho ditolak artinya minimal    terdapat   satu   koefisien   regresi   βij   tidak   sama dengan    nol    atau    kontribusi     seluruh     sektor   tidak berpengaruh    secara    simultan    terhadap  variab terikat

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. ANALISIS DATA DESKRIPTIF

Variabel yang juga dibahas dalam penelitian ini adalah sektor-sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB Propinsi Lampung, yaitu meliputi sektor pertanian (Y1), pertambangan (Y2), industri pengolahan (Y3), listrik, gas dan air bersih (Y4),  konstruksi (Y5), perdagangan dan Perhotelan (Y6), Pengangkutan dan Komunikasi (Y7), Keuangan (Y8) dan jasa (Y9), adapun penjelasan dari pergerakan data variabel ini terlihat pada grafik berikut :

Grafik 4.1.

Sektor-sektor Perekonomian yang membentuk PDRB

Propinsi Lampung

        Sumber : data diolah

Pada grafik ini dapat dinyatakan bahwa selama kurun waktu 2000-2011 kondisi yang terjadi:

  1. Sektor perekonomian yang paling menonjol di Propinsi Lampung adalah sektor pertanian, perternakan dan kehutanan (Y1). Sektor ini selama kurun waktu 2000-2009 mengalami kenaikan  yang relatif cepat terlihat dari curamnya garis pada grafik ini, baru setelah tahun 2009 sampai dengan 2011 perubahannya relatif konstan.
  2. Sektor perekonomian yang berada pada urutan kedua adalah perdagangan, hotel dan restoran (Y2). Sektor ini terus mengalami kenaikan dalam kurun waktu 2000-2011.
  3. Sektor Industri pengolahan (Y3) sektor ini pun dalam kurun waktu 2000-2011 terus mengalami kenaikan.
  4. Sektor Jasa (Y9), sektor ini  juga terus mengalami kenaikan walaupun tidak secepat sektor lain seperti pertanian, perdagangan dan industri pengolahan.
  5. Sektor pengangkutan dan komunikasi (Y7) selama kurun waktu 2000-2011 juga terus mengalami kenaikan, bahkan pada tahun 2011 nilainy melebihi sektor jasa.
  6. Sektor Konstruksi (Y5), sektor ini juga terus mengalami kenaikan walaupun perubahannya relatif kecil terlihat dari landainya garis sektor konstruksi pada grafik.
  7. Sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan (Y8). Sektor ini sejak tahun 2002-2011 terus mengalami kenaikan yang cepat terlihat dari curamnya garis sektor keuangan pada grafik dan pada  tahun 2007-2011 kenaikan pada sektor ini mampu melewati sektor jasa, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor konstruksi.
  8. Sektor Pertambangan   dan Penggalian (Y2), perubahan pada sektor ini relatif konstan, hanya oada tahun 2001-2003 terjadi kenaikan, setelah itu sektor ini  terus mengalami penurunan.
  9. Sektor listrik, gas dan air bersih (Y4), sektor ini relatif tidak mengalami perubahan selama kurun waktu 2000-2011dengan kondisi perkembangan yang relatif terendah dibandingkan sektor-sektor perekonomian lain.

Di sisi lain, perkembangan atau pertumbuhan PDRB ini tidak terlepas dari usaha penyediaan lapangan usaha/pekerjaan di propinsi Lampung. Berdasarkan data diketahui bahwa perubahan lapangan pekerjaan di propinsi ini tergambar dari grafik berikut :

Grafik 4.2. Tingkat lapangan Usaha

Sumber : Data diolah

Berdasarkan grafik 4.3 diatas terlihat bahwa dalam kurun waktu 2000 sampai 2011, telah terjadi peningkatan dalam penyediaan lapangan pekerjaan, walaupun sempat terjadi penurunan  yang relatif besar pada tahun 2007.

Di sisi lain, tingkat kemiskinan dalam hal ini jumlh penduduk miskin di Propinsi Lampung dari tahun ke tahun selama kurun waktu 2000-2011 terus mengalami penurunan. Seperti terihat pada grafik berikut :

Grafik 4.3.

 Sumber : data diolah

Berdasarkan grafik diatas terlihat bahwa tingkat kemiskinan di Propinsi Lampung dalam kurun waktu 2000-2011 relatif menurun. Walaupun pada tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 jumlah penduduk miskin di Propinsi Lampung sempat mengalami kenaikan. Tetapi setelah itu tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan bahkan pada tahun 2011 berada pa tingkat kemiskinan terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sedangkan tingkat kesejahteraan masyarakat di Propinsi Lampung selama kurun waktu 2000-2011 dapat juga diamati dari grafik berikut :

Grafik 4.5. Tingkat Kesejahteraan

Sumber : data diolah

Dari grafik diatas terlihat bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat di Propinsi Lampung ditinjau dari dimensi pengetahuan, penghidupan yang layak, umur panjang dan sehat, selama kurun waktu 2000-2011 terus meningkat.

Setelah dilakukan analisis sektoral dilakukan analisis pengaruh PDRB menurut lapangan usaha terhadap tingkat kemiskinan dan lapangan pekerjaan. Adapun hasil analisisnya adalah sebagai berikut :

Dari analisis data diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.1

Pengaruh perkembangan sektoral terhadap tingkat kemiskinan dan lapangan pekerjaan

Lapangan Usaha

R

R2

F

Sign t

r2 (parsial)

0,952

0,906

3,624

(0,159)

0.61

0,112

0,215

0,44

0,062

0,103

0,130

0,847

-0,861

-0,789

0,671

0,456

0.860

-0,801

0,767

0,120

antara sektor pertanian (Y1), pertambangan (Y2), industri pengolahan (Y3), Listrik, gas dan air bersih (Y4), konstruksi (Y5), Perdagangan, Hotel dan Restoran (Y6), Pengangkutan dan komunikasi (Y7), Keuangan (Y8) dan Jasa (Y9) terhadap lapangan pekerjaan secara simultan memiliki hubungan yang kuat yaitu sebesar 0,952. Besarnya perubahan dari variabel lapangan usaha  90,6 persen disebabkan oleh perubahan pada kesembilan variabel tersebut.

Berdasarkan nilai uji F yang berasal dari tabel Analisa Of Variance sebesar 3,624 (sign 0,159) dengan mengacu pada kriteria diatas yang membandingkan nilai α dengan sign F, maka dapat dinyatakan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara sektor pertanian (Y1), pertambangan (Y2), industri pengolahan (Y3), Listrik, gas dan air bersih (Y4), konstruksi (Y5), Perdagangan, Hotel dan Restoran (Y6), Pengangkutan dan komunikasi (Y7), Keuangan (Y8) dan Jasa (Y9) terhadap sektor lapangan kerja, dimana hal ini diamati secara simultan (serentak).

Persamaan yang diperoleh yaitu :

Z1= 21,584 – 14,451Y1 – 1,226Y2 + 8,703Y3 + 0,0439Y4 + 13,163Y6 – 13,927Y7 + 3,199Y8 + 0,624Y9

Maka dapat dinyatakan bahwa :

  1. Jika sektor pertanian (Y1), pertambangan (Y2), industri pengolahan (Y3), Listrik, gas dan air bersih (Y4), konstruksi (Y5), Perdagangan, Hotel dan Restoran (Y6), Pengangkutan dan komunikasi (Y7), Keuangan (Y8) dan Jasa (Y9)  tidak mengalami perubahan maka tingkat lapangan pekerjaan besarnya 21,584 satuan.
  2. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor pertanian sebesar -14,450 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  3. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan dapat dijelaskan oleh sektor pertambangan  sebesar -1,226 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  4. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor industri pengolahan sebesar 8,703 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  5. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar  0,439 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  6. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor Perdagangan, hotel dan restoran  sebesar 13,163 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  7. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar -13,927 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  8. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor keuangan sebesar 3,199 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  9. Perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan, dapat dijelaskan oleh sektor jasa sebesar 0,624 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.

Mengacu pada nilai koefisien korelasi terlihat bahwa secara simultan, sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memiliki pengaruh terbesar pada lapangan pekerjaan.

Secara parsial, terlihat bahwa nilai  sign t dari seluruh variabel sektor perekonomian, tidak satupun nilainya lebih kecil daripada α = 0,05. Maka dapat dinyatakan bahwa secara parsial tidak satupun dari variabel konsumsi rumah tangga (X1), pengeluaran pemerintah (X2), pengeluaran lembaga non bisnis (X3), pembentukan modal tetap brutto (X4), Inventory stock (X5) dan ekspor netto (X6) memiliki pengaruh signifikan secara parsial pada lapangan pekerjaan. Berdasarkan nilai koefisien korelasi parsial pun diketahui  bahwa sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memiliki hubungan terkuat dengan lapangan pekerjaan.

Banyaknya variabel bebas yang dimasukkan ke dalam model  yang tidak memiliki pengaruh signifikan secara parsial, tetapi secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan, maka dilakukan kembali permodelan untuk memilih variabel yang paling tepat untuk dimasukkan ke dalam persamaan. Metode STEPWISE ditempuh untuk melakukan analisis ini, yang hasilnya seperti terlihat pada persamaan baru yaitu :

Z1= 4,393 + 0,619Y9

            Dari persamaan tersebut diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi lapangan pekerjaan di Propinsi Lampung adalah sektor jasa. Jika terjadi perubahan pada sektor jasa sebesar 1000 satuan, maka lapangan pekerjaan  akan berubah sebesar 619 satuan. Sektor jasa dan lapangan pekerjaan memiliki pengaruh yang signifikan terlihat dari nilai sign t  (0,024) yang lebih kecil daripada 0,05.

Setelah dilakukan analisis antara sektor-sektor perekonomian terhadap lapangan pekerjaan dilakukan analisis pengaruh sektor-sektor perekonomian terhadap tingkat kemiskinan, yang hasilnya menyatakan bahwa antara sektor pertanian (Y1), pertambangan (Y2), industri pengolahan (Y3), Listrik, gas dan air bersih (Y4), konstruksi (Y5), Perdagangan, Hotel dan Restoran (Y6), Pengangkutan dan komunikasi (Y7), Keuangan (Y8) dan Jasa (Y9) terhadap kemiskinan secara simultan memiliki hubungan yang kuat yaitu sebesar 0,986. Besarnya perubahan dari variabel tingkat kemiskinan  97,2 persen disebabkan oleh perubahan pada kesembilan variabel tersebut.

Berdasarkan nilai uji F yang berasal dari tabel Analisa Of Variance sebesar 13,036 (sign 0,029) dengan mengacu pada kriteria diatas yang membandingkan nilai α dengan sign F, maka dapat dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara seluruh sektor perekonomian terhadap tingkat kemiskinan,

Persamaan yang diperoleh yaitu :

Z2 = -8,955 + 6,963Y1 + 0,487Y2 – 8,670Y3 – 0,482Y4 – 2,463Y6 + 4,933Y7 – 1,324Y8 + 3,459Y9

Maka dapat dinyatakan bahwa :

  1. Jika sektor pertanian (Y1), pertambangan (Y2), industri pengolahan (Y3), Listrik, gas dan air bersih (Y4), konstruksi (Y5), Perdagangan, Hotel dan Restoran (Y6), Pengangkutan dan komunikasi (Y7), Keuangan (Y8) dan Jasa (Y9)  tidak mengalami perubahan maka tingkat kemiskinan besarnya -8,955 satuan.
    1. Perubahan pada tingkat kemiskinan, dapat dijelaskan oleh sektor pertanian sebesar 6,963 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    2. Perubahan pada tingkat kemiskinan dapat dijelaskan oleh sektor pertambangan  sebesar 0,487 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    3. Perubahan pada tingkat kemiskinan, dapat dijelaskan oleh sektor industri pengolahan sebesar -8,670 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    4. Perubahan pada tingkat kemiskinan, dapat dijelaskan oleh sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar  -0,482 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    5. Perubahan pada tingkat kemiskinan,  dapat dijelaskan oleh sektor Perdagangan, hotel dan restoran  sebesar -2,463 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    6. Perubahan pada tingkat kemiskinan, dapat dijelaskan oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 4,933 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    7. Perubahan pada tingkat kemiskinan, dapat dijelaskan oleh sektor keuangan sebesar -1,324 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
    8. Perubahan pada tingkat kemiskinan, dapat dijelaskan oleh sektor jasa sebesar 3,459 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.

Mengacu pada uraian diatas terlihat bahwa secara simultan, terlihat bahawa  sektor perdagangan, hotel dan restoran yang memiliki pengaruh terbesar pada lapangan pekerjaan..

Secara parsial, terlihat bahwa nilai  sign t dari seluruh variabel X, tidak satupun nilainya lebih kecil daripada α = 0,05. Maka dapat dinyatakan bahwa secara parsial tidak satupun dari variabel konsumsi rumah tangga (X1), pengeluaran pemerintah (X2), pengeluaran lembaga non bisnis (X3), pembentukan modal tetap brutto (X4), Inventory stock (X5) dan ekspor netto (X6) memiliki pengaruh signifikan secara parsial pada lapangan pekerjaan. Berdasarkan nilai koefisien korelasi parsial pun diketahui  bahwa sektor pertanian yang memiliki hubungan terkuat dengan tingkat kemiskinan.

Permodelan untuk memilih variabel yang paling tepat untuk dimasukkan ke dalam persamaan menggunakan Metode STEPWISE diperoleh persamaan baru yaitu :

Z2= 4,312 -0,340Y7

            Dari persamaan tersebut diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi tingkat kemiskinan  di Propinsi Lampung adalah sektor Pengangkutan dan komunikasi. Jika terjadi perubahan pada sektor pengangkutan dan komunikasi, maka tingkat kemiskinan  akan mengalami perubahan dengan arah yang berlawanan, artinya semakin baik sektor pengangkutan dan Komunikasi di suatu daerah atau wilayah maka akan semakin rendah tingkat kemiskinan di daerah tersebut. Sektor Pengangkutan dan komunikasi memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemiskinan yaitu sebesar -0,835 dan sektor ini pun memiliki pengaruh yang signifikan tingkat kemiskinan masyarakat di Propinsi Lampung.

Lebih lanjut dilakukan analisis untuk mengetahui pengaruh dari tingkat kemiskinan dan lapangan pekerjaan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Propinsi Lampung yang menyatakan  bahwa antara variabel lapangan pekerjaan dan kemiskinan terhadap kesejahteraan masyarakat secara simultan memiliki hubungan yang kuat yaitu sebesar 0,774. Besarnya perubahan dari variabel tingkat kesejahteraan,  59,9  persen disebabkan oleh perubahan pada tingkat lapangan pekerjaan dan kemiskinan. Berdasarkan nilai uji F yang berasal dari tabel Analisa Of Variance sebesar 6,710 (sign 0,016) dengan mengacu pada kriteria diatas yang membandingkan nilai α dengan sign F, maka dapat dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan terhadap terhadap tingkat kesejahteraan.  Berdasarkan persamaan yang diperoleh yaitu :

Z3 = 2,697 – 0,009Z1 – 0,251Z2

Maka dapat dinyatakan bahwa :

  1. Jika lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan tidak mengalami perubahan maka tingkat kesejahteraan besarnya 2,697 satuan.
  2. Perubahan pada tingkat kesejahteraan dapat dijelaskan oleh variabel lapangan pekerjaan sebesar -0,009 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.
  3. Perubahan pada tingkat kesejahteraan dapat dijelaskan oleh sektor kemiskinan sebesar -0,251 satuan, sementara variabel lain diasumsikan konstan.

Mengacu pada uraian diatas terlihat bahwa secara simultan, terlihat bahwa  variabel kemiskinan yang memiliki pengaruh terbesar pada tingkat kesejahteraan masyarakat.

Secara parsial, terlihat bahwa nilai  sign t dari kedua  variabel bebas, hanya variabel kemiskinan yang nilainya lebih kecil daripada α = 0,05. Maka dapat dinyatakan bahwa secara parsial variabel kemiskinan memiliki pengaruh signifikan secara pada tingkat kesejahteraan. Berdasarkan nilai koefisien korelasi parsial pun diketahui  bahwa tingkat kemiskinan  yang memiliki hubungan terkuat dengan tingkat kesejahteraan (r= -0,662).

KESIMPULAN

Sektor jasa yang memiliki peranan signifikan pada usaha peningkatan lapangan pekerjaan. Sektor jasa ini memiliki hubungan yang sedang terhadap tingkat penyediaan lapangan pekerjaan (R=0,645), dan perubahan pada tingkat penyediaan lapangan pekerjaan 41,6 persen disebabkan oleh sektor jasa. Semakin baik perkembangan sektor jasa maka akan semakin baik pula penyediaan lapangan pekerjaan.

Sektor-sektor perekonomian memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kemiskinan masyarakat dalam hal ini jumlah penduduk miskin di Propinsi Lampung dan memiliki hubungan yang sangat kuat yaitu sebesar 0,986. Perubahan pada variabel kemiskinan 97,2 persen dipengaruhi oleh sektor–sektor perekonomian. Diantara beberapa sektor perekonomian, ternyata sektor pengangkutan dan komunikasi yang paling berpengaruh pada perubahan tingkat kemiskinan yaitu sebesar 69,8 persen. Sektor pengangkutan dan Komunikasi memiliki peranan yang signifikan terihat dari nilai uji F sebesar -4,808. Sektor ini pun memiliki hubungan yang kuat pada tingkat kemiskinan dengan arah hubungan negatif, yaitu semakin baik sektor Pengangkutan dan Komunikasi maka akan semakin rendah tingka kemiskinan di kalangan masyarakat propinsi Lampung. Variabel lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesejahteraan, terlihat dari nilai uji F sebesar 6,70.  Perubahan pada tingkat kesejahteraan 59,9 persen dipengaruhi oleh lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan. Lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan memiki hubungan yang relatif sedang dengan tingkat kesejahteraan (R=0,774) dengan arah hubungan yang berlawanan dimana semakin  rendah penyediaan lapangan pekerjaan dan tingkat kemiskinan maka akan semakin tinggi tingkat kesejahteraan mayarakat Propinsi Lampung.

DAFTAR PUSTAKA

Fillaili, Rizki, 2008. Memahami Jalan keluar dari Kemiskinan : Kapasitas Agensi dan mobilitas  Kesejahteraan, SMERU. No. 27 Sep-Dec.

Gujarati, Damodar, 1998, Ekonometrika Dasar, Alih Bahasa, Sumarno Zain, Penerbit Erlangga, Jakarta

Hakim, Abdul. 2010. Ekonomi Pembangunan, penerbit Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Cetakan ketiga.

Koutsoyiannis, A. 1977. Theory of Econometrics. Harper and Row Publisher Inc, New York.

Rioja, Felix K, 2001. Growth, welfare & public infrastruktur, a general equilibrium. Analysis of Latin American Economies, Journal of Economic Development, Volume 26, Number 2.

Siregar, Hermanto, 2009, Makro dan Mikro Pembangunan, Kumpulan Jurnal dan Makalah, IPB Press, Bogor.

Sitepu, Rasidin dan Bonar M. Sinaga, 2009. Dampak Investasi sumber daya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan di Indonesia, IPB Press. Bogor.

Smith Stephen C, Tondoro Michael P. 2006. Pembangunan Ekonomi. Edisi Kesembilan, jilid 1, Erlangga Jakarta.

Todaro M.P. dan Stephen C. Smith 2006. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Advertisement

No comments.

Leave a Reply