Penerapan Strategi Bedah Nilai Pada Pendidikan Budi Pekerti

8

Pendidikan budi pekerti di sekolah, banyak kembali diperbincangkan dalam pembentukan kembali moral bangsa sehingga seolah-olah budi pekerti merupakan solusi baru bagi pendidikan bangsa yang mulai terdegradasi secara moral. Padahal pendidikan budi pekerti merupakan barang lama yang diselenggarakan  sampai tahun 1970-an pada masa orde lama. Akhirnya dari penghilangan pelajaran budi pekerti ini maka timbullah berbagai kasus yang menggambarkan degredasi moral, seperti; korupsi, kolusi dan nepotisme – KKN serta banyak kasus lainnya.

Pemerintah melalui Dikdasmen Jakarta, pada  tahun 2000 telah menerbitkan buku I dan II yang berisi Pendidikan Budi Pekerti dan disusul tahun 2002 Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas Jakarta juga menerbitkan seri Pendidikan Budi Pekerti untuk tingkat SD hingga SLTA yang termuat dalam salah satu seri  Kurikulum Berbasis Kompetensi. Penerbitan buku-buku tersebut tidak disajikan dengan cara pembelajaran yang strategis untuk mencapai tujuan pendidikan budi pekerti.

Guna mencapai tujuan stategis maka diperlukan strategi pengajaran serta kiat yang perlu dilaksanakan pada waktu penyelenggaraan pendidikan budi pekerti, yang disebut dengan Strategi Bedah Nilai. Melalui strategi Bedah Nilai ini diharapkan memudahkan para guru mengajarkan pendidikan budi pekerti di kelas. Pendidikan budi pekerti akan lebih konkrit, bergerak dalam ranah afektif, serta lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Buku ini menyajikan evaluasi cara melakukan evaluasi pendidikan budi pekerti.yang.lebih.komprehensif.

I.                   PENDAHULUAN

1.1.Kebijakan pendidikan Budi Pekerti

Setelah lama pendidikan budi pekerti telah dihilangkan dari ranah pendidikan nasional maka dirasakan perlu kembali untuk mewujudkan pengajaran budi pekerti.  Usaha memasukkan pendidikan budi pekerti dalam kurikulum pendidikan diawali dengan rintisan pengintegrasian nilai-nilai budi pekerti dalam seluruh mata pelajaran, terutama dalam mata pelajaran Agama, PPKn, Bahasa Indonesia serta dilaksanakan melalui kegiatan Bimbingan Konseling (Dirjen DIKDASMEN, Depdiknas 2004)

1.2.Pengertian pendidikan budi pekerti

Pengertian pendidikan budi pekerti
Budi pekerti berasal dari kata “budi” dan “pekerti”. Budi berarti paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Pekerti berarti perangai, tingkah laku, akhlak. Budi pekerti, akhlak, moral dan etika memiliki makna etimologis yang sama, yakni adat kebiasaan, perangai dan watak. Budi pekerti, akhlak, moral dan etika merupakan suatu ilmu yang menerangkan tentang baik dan buruk perbuatan manusia.

Pendidikan budi pekerti adalah pendidikan jiwa. Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti atau akhlak merupakan jiwa pendidikan Islam.

Bilamana dikaitkan dengan pendidikan, maka kita akan menemukan pendidikan budi pekerti dalam dua bentuk, dalam arti luas atau konseptual dan dalam artian sempit atau operasional. Secara konseptual, pendidikan budi pekerti sebagai konsep pendidikan yang harus dilaksanakan di berbagai lingkungan, sementara secara operasional adalah pendidikan budi pekerti sebagai sebuah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

Karena pendidikan budi pekerti sebagai konsepsional lebih dipentingkan dalam kajian ilmiah, maka yang kita maksud dengan pendidikan budi pekerti sekarang adalah pendidikan budi pekerti dalam arti sempit atau secara operasional, yakni berupa salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Pendidikan budi pekerti secara operasional diartikan sebagai upaya untuk membekali peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan selama pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai bekal bagi masa depannya, agar memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan terhadap sesama makhluk sehingga terbentuk pribadi seutuhnya yang tercermin pada perilaku berupa; ucapan, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, kerja dan hasil karya berdasarkan nilai-nilai agama serta norma dan moral luhur bangsa

1.3.Tujuan dan Fungsi Pendidikan Budi Pekerti

Tujuan pendidikan budi pekerti meliputi:

1. Mendorong kebiasan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religious

2. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai penerus bangsa

3. Memupuk ketegaran dan kepekaan mental peserta didik terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang negatif, sehingga tidak terjerumus ke dalam perilaku yang menyimpang, baik secara individual maupun social

4. Meningkatkan kemampuan untuk menjauhi atau menolak sifat-sifat tercela yang dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

Sedangkan fungsi pendidikan budi pekerti bagi peserta didik meliputi:

  1. Pencegahan ; Yaitu untuk mencegah perilaku negatif yang tidak sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa.
  2.  Penyaluran, yaitu untuk membantu peserta didik yang memiliki bakat tertentu agar dapat berkembang dan bermanfaat secara optimal sesuai dengan budaya bangsa.
  3.  Penyaring (filter), yaitu untuk menyaring budaya-budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa-bangsa lain, yang tidak sesuai dengan nilai budi pekerti
  4.  Pembersih, yaitu membersihkan diri dari penyakit hati seperti sombong, egois, iri, dengki, dan ria, sehingga terhindar dari penyakit hati itu dan mereka tumbuh dan berkembang sesuai ajaran agama dan budaya bangsa.
    1.  Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan, kekurangan dan kelemahan peserta didik dalam perilaku sehari-hari.
    2.  Pengembangan, yaitu untuk meningkatkan perilaku yang baik bagi peserta didik yang telah tertanam dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga mereka dapat mengembangkan kecerdasan spritual, emosional, dan intelektualnya secara optimal

1.4 Pendekatan Penanaman Nilai

Dalam rangka meningkatkan keberhasilan pendidikan budi pekerti untuk membentuk mental, moral, spritual, personal, dan sosial peserta didik, maka dalam penerapan pendidikan budi pekerti dapat digunakan berbagai pendekatan dengan memiliih pendekatan terbaik (eklektif) dan saling mengaitkan satu sama lain agar menimbulkan hasil yang optimal (sinergis). Pendekatan yang dimaksud antara lain:

1. Pendekatan Penanaman Nilai

Pendekatan ini mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil melalui tahapan : (1) mengenal pilihan (2) menilai pilihan, (3) menentukan pendirian, dan (4) menerapkan nilai sesuai dengan keyakinan diri. Cara yang dapat digunakan pada pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi dan bermain peran.

2. Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Pendekatan ini menekankan pada berbagai tingkatan dari pemikiran moral. Guru dapat mengarahkan peserta didik dalam menerapkan proses pemikiran moral melalui diskusi masalah moral sehingga peserta didik dapat membuat keputusan tentang pendapat moralnya. Mereka akan menggambarkan tingkat yang lebih tinggi dalam pemikiran moral, yaitu (1) takut hukuman, (2) melayani kehendak sendiri, (3) menuruti peranan yang diharapkan, (4) menuruti dan mentaati otoritas, (5) berbuat untuk kebaikan orang banyak, (6) bertindak sesuai dengan prinsip etika yang universal
Cara yang dapat digunakan dalam penerapan budi pekerti dengan pendekatan ini antara lain melakukan diskusi kelompok dengan topik dilema moral, baik yang faktual maupun yang abstrak (hipoteka)

3. Pendekatan Analisis

Pendekatan ini menekankan agar peserta didik dapat menggunakan kemampuan berfikir logis dan ilmiah dalam menganalisis masalah sosial yang berhubungan dengan nilai tertentu. Selain itu, peserta didik dalam menggunakan proses berfikir rasional dan analitik dapat menghubung-hubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai mereka sendiri. Cara yang dapat digunakan dalam pendekatan ini antara lain, diskusi terarah yang menuntut argumentasi, penegasan bukti, penegasan prinsip, analisis terhadap kasus, debat dan penelitian.

4. Pendekatan Klarifikasi Nilai

Pendekatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi nilai-nilai mereka sendiri dan nilai orang lain. Selain itu pendekatan ini juga membantu peserta didik untuk mampu mengkomunikasikan secara jujur dan terbuka tentang nilai-nilai mereka sendiri kepada orang lain dan membantu peserta didik dalam menggunakan kemampuan berpikir rasional dan emosional menilai perasaan, nilai, dan tingkah laku mereka sendiri.

5. Pendekatan Pembelajaran Berbuat

Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik seperti pada pendekatan analisis dan klarifikasi nilai. Selain itu, pendekatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial serta menolong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk yang senantiasa berinteraksi dalam kehidupan masyarakat.
Cara yang dapat digunakan dalam pendekatan ini, selain cara-cara pada pendekatan analisis dan klarifikasi nilai, adalah metode proyek/ kegiatan sekolah, hubungan antar pribadi, praktek hidup bermasyarakat dan berorganisasi.

1.5.Prinsip Pendukung

  1. Cara mempertahankan sikap yg baik
  2. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap dan perilaku peserta didik yang sudah baik adalah sbb:
  3. Menciptakan suasana belajar yang aman, tenang dan menyenangkan bagi peserta didik dengan membina hubungan baik antara guru dengan peserta didik, berkomunikasi terbuka, sehingga tidak ada perasaan tertekan dan takut kepada guru.

Memberikan hadiah atau penghargaan,Hadiah atau penghargaan dapat berupa:

  1. Pujian berupa kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap / perilaku peserta didik yang baik, seperti kata bagus. Contohnya “pekerjaanmu hari ini bagus”. Ucapan “selamat”.
  2. Pujian dalam bentuk mimik atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada peserta didik, misalnya anggukkan kepala, memberi acungan jempol, senyum dan lain-lain
  3.  Benda sederhana seperti permen, pensil, buku, atau lainnya yang bermanfaat

2. Cara mencegah sikap dan perbuatan yang tidak baik.
Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah perbuatan peserta didik yang tidak baik, antara lain;

a. Memberikan perhatian/ pelayanan yang adil kepada peserta didik agar tidak timbul rasa iri dan cemburu

b. Menanamkan rasa berani mengakui kesalahan sendiri dan meminta maaf serta tidak mengulanginya

c. Memberikan sanksi kepada yang melanggar aturan sekolah

d. Memberikan pengertian mengenai nilai-nilai budi pekerti melalui cerita-cerita

e…Menghidari respon penguatan negative

f. Memperdengarkan nilai-nilai budi pekerti kepada peserta didik setiap saat atau memasang slogan-slogan di tempat–tempat terbuka seperti “Bersih itu sehat”, “Kebersihan cermin kepribadian”, “sudah rapikah saya”.

1.7  Rambu-rambu Penerapan

Dalam penerapan pendidikan budi pekerti, guru perlu memperhatikan rambu-rambu sebagai berikut;

  1. Penerapan budi pekerti tidak hanya pada ranah kognitif saja, melainkan harus berdampak positif terhadap sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
  2.  Rumuskan tujuan yang mengacu kepada penerapan perilaku dasar yang telah ditetapkan secara rinci dan jelas. Pencapaian tujuan penerapan akan lebih mudah dilaksanakan guru karena perilaku dasar tersebut diterjemahkan dalam indikator-indikator sebagai ukuran perilaku dasar budi pekerti
  3.  Penerapan nilai-nilai budi pekerti dikembangkan sesuai dengan kondisi dan perkembangan masyarakat dan fakta-fakta yang dihadapi peserta didik.
  4.  Untuk keberhasilan pendidikan budi pekerti ini semua pihak (guru, orang tua, kepala sekolah, tenaga administrasi) harus berperan aktif mengembangkan nilai-nilai budi pekerti sehingga nilai-nilai budi pekerti itu menjadi budaya pada sekolah ybs.
  5.  Orang tua sebagai pemberi suri teladan, bekerja sama dengan sekolah untuk membimbing peserta didik dan konsisten dalam menjalankan pendidikan budi pekerti di rumah
  6.  Sekolah menciptakan suasana yang kondusif bagi terlaksananya penerapan pendidikan budi pekerti dan seluruh unsur sekolah memberi teladan

1.8  Nilai Pendidikan Budi Pekerti

Nilai Budi Pekerti :

  1.  Menyakini adanya TYME & mentaati ajaranNya Yaitu sikap dan perilaku yang mencerminkan keyakinan dan kepercayaan terhadap Tuhan YME
  2. Mentaati ajaran agama Yaitu sikap dan perilaku yang mencerminkan kepatuhan, tidak ingkar, dan taat menjalankan perintah dan menghindari larangan agama
  3. Memiliki dan mengembangkan sikap toleransi Yaitu sikap dan perilaku yang mencerminkan toleransi dan penghargaan terhadap pendapat, gagasan, tingkah laku orang lain, baik yang sepandapat maupun yang tidak sependapat dengan dirinya.
  4. Menumbuhkan kejujuran Yaitu sikap dan perilaku untuk bertindak dengan sesungguhnya dan apa adanya, tidak sombong, tidak dibuat-buat, tidak ditambah atau tidak dikurangi, dan tidak menyembunyikan informasi.
  5. Tumbuhnya disiplin diri Yaitu sikap dan perilaku sebagai cerminan dari ketaatan kepatuhan, ketertiban, kesetiaan, ketelitian, dan keteraturan perilaku seseorang terhadap norma dan aturan yang berlaku
  6. Memiliki rasa malu Yaitu sikap dan perilaku yang menunjukan tidak enak hati, hina, rendah karena berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, norma dan aturan
  7. Memiliki rasa tanggungjawab Yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya ia lakukan terhadap diri sendiri, masyarakat lingkungan (alam sosial) negara dan Tuhan YME
  8.  Memiliki rasa keterbukaan Yaitu sikap dan perilaku seseorang yang mencerminkan adanya keterusterangan terhadap apa yang dipikirkan, diinginkan, diketahui dan kesediaaan menerima saran serta kritik orang lain
  9.  Mampu mengendalikan diri Yaitu kemampuan seseorang untuk dapat mengatur dirinya sendiri berkenaan dengan kemampuan, nafsu, ambisi, keinginan, dalam memenuhi rasa kepuasan dan kebutuhan hidupnya.
  10.  Mampu berfikir positif Adalah sikap & perilaku seseorang untuk dapat berfikir jernih, tidak buruk sangka, mendahulukan sisi positif dari suatu masalah.
  11.  Mengembangkan potensi diri Yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk dapat membuat keputusan sesuai dengan kemampuannya, mengenal bakat, minat, dan prestasi serta sadar akan keunikan dirinya sehingga dapat mewujudkan potensi dirinya sebenarnya.
  12.  Menumbuhkan cinta kasih sayang Yaitu sikap dan perilaku seseorang yang mencer-minkan adanya unsur memberi perhatian, per-lindungan dan penghormat-an, tanggung jawab dan pengorbanan terhadap orang yang dicintai dan dikasihi.
  13. Memiliki kebersamaan dan gotong royong Yaitu sikap dan perilaku seseorang yang mencer-minkan adanya kesadaran dan kemauan untuk bersama-sama, saling membantu, dan saling memberi tanpa pamrih
  14. Memiliki rasa kesetiakawanan Yaitu sikap dan perilaku seseorang yang mencer- minkan kepedulian kepada orang orang lain, keteguh- an hati, rasa setia kawan, dan rasa cinta terrhadap orang lain dalam kelompok
  15. Saling menghormati Yaitu sikap dan perilaku untuk menghargai dalam hubungan antar individu dan kelompok berdasarkan norma dan tatacara yang berlaku.
  16.  Memiliki tata krama dan sopan santun Yaitu sikap dan perilaku sopan santun dalam bertindak dan bertutur kata terhadap orang tanpa menyinggung, menyakiti serta menghargai tata cara yang berlaku sesuai dengan norma budaya dan adat istiadat.
  17. Mengembangkan etos kerja /belajar Yaitu sikap dan perilaku sebagai pencerminan dari semangat, kecintaan, kedisiplinan, kepatuhan /loyalitas, dan penerimaan terhadap kemajuan hasil kerja /belajar
  18.  Memiliki rasa menghargai diri sendiri Yaitu sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan seseorang terhadap dirinya sendiri, dengan memahami kelebihan dan kekurangan dirinyaNilai budi pekerti diatas merupakan nilai minimal budi pekerti yang ditetapkan secara nasional. Untuk menentukan muatan kurikulum pendidikan budi pekerti, pemerintah daerah atau dinas setempat memungkinkan untuk mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan serta situasi dan kondisi setempat, termasuk untuk tingkat sekolah dasar.

III.       MATERI DAN KUNCI KEGIATAN

Dalam penerapan strategi bedah nilai, guru pendidikan budi pekerti hendaknya mamahami pendekatan yang digunakan serta nilai-nilai dan materi pelajaran yang mesti terkomunikasiakan dalam kegiatan belajar di kelas.

Untuk membantu guru dalam melaksanakan strategi bedah nilai ini, maka di bawah ini disajikan pendekatan dan kata-kata kunci dari topik sebagaimana yang disajikan dalam buku teks.

No Topik/ Materi Ceritera/Kasus Pendekatan 

  1. Pengendalian Diri Sepak bola antar kelas Penanaman Nilai
  2. Adil Hadiah Cokelat Perk.Moral Kognitif
  3. Menghormati diri & Orang Lain Memilih rumah kost Penanaman Nilai
  4. BaikSangka Dipanggil Konselor Klarifikasi Nilai
  5. Kebersamaan Gotong royong menyiapkan taman Penanaman Nilai
  6. Patriotisme Kuis Siapa dia Klarifikasi Nilai
  7. Tanggung Jawab Peserta didik Ibnu Kambing dan Orang gila Penanaman Nilai
  8. Kejujuran Sepeda Santai Penanaman Nilai
  9. Iman dan Taqwa Lalat Cerdas Penanaman Nilai
  10.  Disiplin Belajar Kelompok Sore Hari Pendk. Analisis
  11.  Percaya Diri Ujian Tanpa Pengawas Klarifikasi Nilai
  12. Ramah dan Santun Kecipratan Pendk.Berbuat
  13. Kasih Sayang Ivo Eva dan Kucing Klarifikasi Nilai
  14. Tenggang Rasa Memilih Rumah Kost Klarifikasi Nilai Hemat Uang Kaget Pendk.Berbuat
  15. Cermat Pesta Berdarah Pendk.Berbuat
  16. Keterbukaan Rapat Desa Pendk. Analisis
  17. Prospektif Ayah Siapa Pendk. Analisis
  18. Rasa Malu Acara Perpisahan Spetakuler Klarifikasi Nilai
  19. Empati Camping Keluar Kota Pend Analisis
  20. Bijaksana Utusan Lomba Baca Puisi Pendk Analisis
  21. Rasa keterikatan Perahu Penyelamatan Penanaman Nilai pada pendekatan ini antara lain: keteladanan, penguatan positif dan negatif, simulasi dan bermain peran.

IV.     KESIMPULAN

Penerapan pendidikan budi pekerti secara sistematis dan sistemik, nilai-nilai budi pekerti dapat diintegrasikan dalam materi pembelajaran, sesuai dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, PPKn,Bahasa dan Sastra Indonesia.

Untuk menumbuhkan nilai budi pekerti dalam diri siswa penyampaiannya harus suasana kondusif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Guru dan staf tata usaha di sekolah harus mampu menjadi teladan insan berbudi pekerti luhur. Sekolah menjadi laboratorium budi pekerti. Tanggung jawab siapa pendidikan budi pekerti? Sekolah, orangtua, masyarakat dan pemerintahan. Itulah sebabnya, siswa, orangtua, guru, administratur, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat secara proporsional mempunyai peran, tugas, dan tanggung jawab dalam mengembangkan dan pelaksanaan pendidikan budi pekerti.
Mengingat pendidikan budi pekerti baru dilaksanakan tahun pelajaran 2001-2002 secara simultan di seluruh kelas dan jenjang pendidikan.
Guru harus memperoleh pengentahuan tentang apa budi

pekerti dan bagaimana metode berikut sistem penilaiannya? Setidaknya acuan itu untuk menyamakan persepsi dalam mengelola pendidikan budi pekerti.
Teori belajar sosial berdasarkan empirisme John Locke dan behaviorism John Watson serta BF Skiner. Teori ini menganggap sosok manusia, “Ibarat kertas kosong di mana masyaratkat menuliskan pengalamananya”. Masyarakat atau lingkungannya sangat multidimenional keluarga di dalamnya. Selain itu, ras, institusi, suku, adat istiadat ikut mengukirnya. Baik atau buruk ditentukan norma yang ada di lingkungan mayarakat tersebut. Sekolah dianggap sebagai mikrokosmos mayarakat, yang berperan sebagai otoritas moral. Teori psikoanalisis dikemukakan Sigmund Freud berdasarkan atas pandangan sosok manusia dikuasai dorongan irasional yang harus dikontrol. Freud melibatkan tiga bagian, yaitu “ide” yang menunjukkan dorongan hewani, liar, “ego” menggambarkan prinsip dan kerja realita untuk mengukur tindakan. “Superego” menunjukkan elemen terakhir untuk berkembang yang berfungsi sebagai agen kontrol serta menjaga seseorang dari tindakan salah, buruk atau moral, kemudian mengajarkan apa yang salah dan benar. Orangtua sangat dominan membentuk superego anak menjadi amat baik. Sekolah dalam hal ini berperan pada sekunder.
Atas dasar teori para ahli di atas, tentu budi pekerti yang akan diterapkan di Indonesia mengacu sesuai dengan budaya bangsa. Keluarga amat penting dalam pembentukan budi pekerti. Selanjutnya, sekolah memberikan wawasan secara benar dan langsung mengevaluasi pada tingkat mana budi pekerti anak asuhnya. Nilai lebih baik bersifat kualitatif yaitu baik, cukup, maupun kurang. Untuk menilai budi pekerti kurang harus berhati-hati. Hal ini disebabkan karena perilaku manusia cenderung berubah.

 DAFTAR ISI

–       Belajarpsikologi.com/informasi/pendidikan

–       harunnihaya.blogspot.com//panduan-guru-pendidikan-budi-pekerti

–       Books.google.com//pendidikan_budi_pekerti_di_sekolah_suatu tinjauan_umum

–       www.refensi makalah.com

–       Dikdasmen, 2004. Model Pengintegrasian Budi Pekerti ke dalam Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Guru SMU/SMK/MA, Jakarta

–       _________, 2004. Pedoman Khusus Kurikulum Muatan Lokal SMP/MTS, CV. Giantira, Jambi

–       Joyce, Bruce & Marsha Weil, 1999. Model of Teaching, Fifthy Ed. Boston, Allyn & Bacon

–       Sutja Akmal, 2007. Pendidikan Budi Pekerti Jilid satu, dua dan tiga, Intermasa, Jakarta.

Advertisement

No comments.

Leave a Reply