III. Dimensi Religiusitas dan Resiliensi

Resiliensi-2

Dimensi religiusitas menekankan pada perasaan dan pengalaman beragama. Menurutnya, agama memberikan energi spiritual, dimana agama dapat menggairahkan semangat hidup, meluaskan kepribadian, memperbarui daya hidup, dan memberikan makna dan kemuliaan baru pada hal-hal yang biasa dalam kehidupan. Orang yang beragama akan mencapai perasaan tenteram dan damai. Hal ini dapat dikuatkan dengan kemampuan individu untuk melanjutkan hidup setelah ditimpa kemalangan atau setelah mengalami tekanan yang berat. Melalui kedua hal tersebut kita akan mengetahui sejauhmana dimensi religiusitas dan resilien terhadap para residen narkoba di BNN Lido.

I.           PENDAHULUAN

Di Indonesia, masalah penyalahgunaan narkoba tersebut telah berada pada tahap yang mengkhawatirkan. Betapa tidak, data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan adanya kecenderungan yang terus meningkat, rata-rata angka pengguna napza meningkat 15% per-tahunnya. Data BNN juga menyebutkan bahwa 80% pengguna napza merupakan generasi muda dengan kisaran usia 15-39 tahun. Permasalahan tersebut telah menimbulkan banyak

korban, terutama kalangan muda yang termasuk klasifikasi usia produktif. Masalah ini bukan hanya berdampak negatif terhadap diri korban atau pengguna, tetapi lebih luas lagi berdampak negatif terhadap kehidupan keluarga, masyarakat, perekonomian, kesehatan nasional (HIV dan hepatitis), mengancam dan membahayakan keamanan, ketertiban, bahkan lebih jauh lagi mengakibatkan terjadinya biaya sosial yang tinggi (social high cost) dan generasi yang hilang (lost generation) (BNN R.I. & Depsos R.I., 2004).

Program rehabilitasi di BNN dimulai dari fase detoksifikasi, yaitu ditujukan untuk membantu residen menghilangkan racun-racun dalam tubuhnya akibat dari pemakaian zat adiktif. Umumnya pada fase ini, residen menetap selama ± 2 minggu dalam ruangan khusus dan terisolasi. Selanjutnya adalah fase Entry Unit yang merupakan tahap lanjutan dari fase detoksifikasi, dimana pada fase ini merupakan fase “istirahat” bagi residen untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya guna mengikuti program selanjutnya. Pada umumnya fase Entry Unit

berlangsung selama ± dua minggu, tergantung kemajuan residen dalam proses rehabilitasi. Selanjutnya adalah Primary Program yaitu tahap awal (Primary Stage) program rehabilitasi melalui pendekatan Therapeutic Community (TC) dimana dilakukan stabilitasi fisik, emosi dan menumbuhkan motivasi residen untuk melanjutkan tahap terapi selanjutnya, primary unit dibagi menjadi dua rumah, yaitu house of hope dan green house, pada umumnya fase primary green

dan primary hope sama, namun dalam penerapannya, fase primary hope mengkombinasikan TC (Therapeutic Community) dengan NA (12 langkah), dan yang terakhir adalah Re-entry Stage yaitu tahapan program rehabilitasi melalui pendekatan Therapeutic Community setelah residen mengikuti tahapan program primer, dimana dilakukan upaya pemantapan kondisi psikologis dalam dirinya, (TC) dimana dilakukan stabilitasi fisik, emosi dan menumbuhkan motivasi residen untuk melanjutkan tahap terapi selanjutnya, primary unit dibagi menjadi dua

rumah, yaitu house of hope dan green house, pada umumnya fase primary green dan primary hope sama, namun dalam penerapannya, fase primary hope mengkombinasikan TC (Therapeutic Community) dengan NA (12 langkah), dan yang terakhir adalah Re-entry Stage yaitu tahapan program rehabilitasi melalui pendekatan Therapeutic Community setelah residen mengikuti tahapan program primer, dimana dilakukan upaya pemantapan kondisi psikologis dalam dirinya, menggunakan kelompok sebagai metode perubahan perilaku. Therapeutic session (sesi terapi); yaitu suatu metode yang menggunakan pertemuan sebagai media penyembuh. Religious session (sesi agama); yaitu suatu metode yang memanfaatkan pertemuan-pertemuan keagamaan untuk meningkatkan nilai-nilai kepercayaan atau spiritual residen. Role modeling (ketauladanan); yaitu suatu metode yang menggunakan tokoh sebagai model atau panutan.

Namun ternyata upaya-upaya tersebut tidak menjamin kesembuhan mereka dari ketergantungan narkoba dan kepastian bahwa mereka tidak akan pernah relapse (kambuh). Relapse atau kambuh adalah suatu proses yang terjadi karena beberapa faktor pemicu dimana seseorang yang telah dinyatakan abstinence (bertahan bebas zat) lalu kembali menggunakannya, biasanya dimulai dengan suatu perubahan pada pikiran, perasaan, atau perilaku.

Pada fase rehabilitasi para pecandu memiliki kesulitan mempertahankan diri untuk bersih dari narkoba. Hal ini senada dengan pernyataan Gories Mere (2010) bahwa tantangan dan hambatan yang dihadapi para pecandu menuju kepulihan sangatlah berat. Dimana tingkat kekambuhan para pecandu yang menjalani rehabilitasi masih tinggi. Pernyataan tersebut didukung beberapa penelitian sebelumnya, diantaranya yang dikemukakan oleh Doweiko, bahwa 90 hari setelah masa detoksifikasi adalah masa yang paling tinggi angka kekambuhannya (BNN R.I. & Depsos R.I. 2004).

Untuk dapat mempertahankan diri agar tidak relapse dan mempertahankan kepulihannya selama menjalani maupun pasca rehabilitasi, maka dibutuhkan adanya suatu kekuatan. Dalam hal ini kekuatan dimana mereka dituntut untuk bisa lepas dan bersih dari narkoba dan bertahan agar tidak relapse, serta dapat menjalani serangkaian program rehabilitasi yang penuh tekanan, yang menuntut kualitas yang ada pada diri mereka untuk tetap pulih, agar dapat melanjutkan hidupnya, sekaligus mampu memiliki pandangan positif terhadap kehidupan dan diri mereka sendiri. Kekuatan untuk tetap mampu bertahan dalam menghadapi, mengatasi, mempelajari kesulitan dalam hidup, dan bahkan ditransformasi oleh kesulitan tersebut dinamakan resiliensi (Grotberg, 2003).

II.          Resiliensi

1. Definisi resiliensi

Lazarus (dalam Tugade & Fredrikson, 2004), menganalogikan resiliensi dengan kelenturan pada logam. Misalnya, besi cetak yang banyak mengandung karbon sangat keras tetapi getas atau mudah patah (tidak resilien) sedangkan besi tempa mengandung sedikit karbon sehingga lunak dan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan (resilien).

2. Aspek resiliensi

Menurut Grotberg (2003), dalam Resilience for today: gaining strength from adversity, terdapat tiga aspek resiliensi, yaitu: (1) External Supports, merupakan bantuan dan sumber dari luar yang dapat meningkatkan resiliensi. (2) 2. Inner Strengths, Aspek inner strengths, yang disebut oleh Grotberg dengan istilah “I Am”merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri, seperti perasaan, tingkah laku dan kepercayaan yang terdapat dalam diri seseorang. (3)  Interpersonal and Problem-Solving Skills.

3. Faktor-faktor resiliensi

Mampane & Bouwer (2006) mencoba mengumpulkan faktor-faktor resiliensi melalui penelitian-penelitian terdahulu. Didapatkan bahwa secara keseluruhan terdapat dua faktor resiliensi, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu cognitive, spiritual, emotional, physical, dan behavioral. Sedangkan faktor eksternal, adalah faktor lingkungan, yaitu family, culture, community, school, dan peers.

III.           Religiusitas

1.      Definisi Dimensi Religiusitas

Harun Nasution (dalam Jalaluddin, 2000), merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-Din, religi (relegare, religere), dan agama. Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (latin) atau relegare berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama tediri dari a = tidak; gam= pergi mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi turun temurun.

2. Dimensi-dimensi religiusitas

Menurut Kendler, et al. (2003), dalam jurnal Dimension of Religiosity and Their Relationship to Lifetime Psychiatric and Substance Use Disorders, ada tujuh dimensi religiusitas, yaitu: (1) Dimensi religiusitas general religiosity, menggambarkan bagaimana hubungan individu dengan Tuhannya. (2) Dimensi religiusitas social religiosity, adalah bagaimana individu tersebut membina hubungannya dengan individu sesama manusia, lebih khususnya dengan sesama penganut agamanya. (3) Dimensi religiusitas involved God, yaitu segala sesuatu yang menurut manusia melambangkan Tuhan. Dimensi ini mencerminkan sebuah kepercayaan dan keyakinan terhadap keterlibatan Tuhan yang secara aktif dan positif dalam urusan manusia. (4) Dimensi religiusitas forgiveness, bagaimana mengambarkan pendekatan kepedulian, rasa kasih sayang, dan saling maaf–memaafkan. (5) Dimensi religiusitas God as judge, mengambarkan kekuasaan yang dimiliki Tuhan. Mencerminkan persepsi Tuhan sebagai Penetap Takdir, juga menegaskan tentang takdir, serta hukum dan nilai-nilai dari Tuhan. (6) Dimensi religiusitas unvengefulness, mencerminkan suatu perilaku yang tidak menaruh rasa dendam terhadap dunia. 7. Dimensi religiusitas thankfulness, mengambarkan rasa syukur (thankfulness).

Reliensi

IV.        KESIMPULAN

Kesimpulan ini merupakan jawaban dari permasalahan penelitian. Bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dimensi religiusitas terhadap resiliensi residen narkoba di BNN Lido. Berdasarkan sumbangan seluruhnya, resiliensi yang dipengaruhi independent variabel sebesar 24,8%., dan yang memberikan pengaruh yang signifikan adalah dimensi religiusitas thankfulness.Analisis data berdasarkan fase dalam rehabilitasi, didapatkan bahwa pada masing-masing fase terdapat pengaruh yang signifikan dimensi religiusitas terhadap resiliensi. Pada fase primary green, berdasarkan sumbangan seluruhnya, resiliensi yang dipengaruhi independent variabel sebesar 55%., dan ditemukan bahwa yang memberikan pengaruh yang signifikan adalah dimensi religiusitas thankfulness dan dimensi religiusitas social religiosity. Sedangkan pada faseprimary hope, berdasarkan sumbangan seluruhnya, resiliensi yang dipengaruhi independent variabel sebesar 61,2%., dan ditemukan bahwa yang memberikan pengaruh yang signifikan adalah dimensi religiusitas thankfulness. Kemudian pada fase reentry, berdasarkan sumbangan seluruhnya, resiliensi yang dipengaruhi independent variabel sebesar 26,7%., dan ditemukan bahwa yang memberikan pengaruh yang signifikan adalah dimensi religiusitas thankfulness.

DAFTAR ISI 

Arikunto, Suharsimi. 2011. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.Badan Narkotika Nasional. 2006. Modul pelatihan petugas rehabilitasi sosial dalam pelaksanaan program one stop center (OSC). Jakarta. Badan Narkotika Nasional.Badan Narkotika Nasional. 2009. Metode Therapeutic Community. Jakarta : Badan Narkotika Nasional.Badan Narkotika Nasional. 2003. Pedoman Terapi Pasien Ketergantungan Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya. Jakarta : Badan Narkotika Nasional.Badan Narkotika Nasional. 2003. Pedoman Standar Pelayanan Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain (Narkoba). Jakarta : Badan Narkotika

Nasional.Dewi,M.R.2008.http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.jps?id=lokal, diperoleh 10 Februari 2011)Hawari, Dadang. 1999. http://www.dadang-hawari.net/default.aspx?tipe=A&id=30, diakses 20 Desember 2010).Joewana, Satya. 2005. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif. Jakarta : EGC.Marlatt, Arlan. 1999. Relapse Pervention : An overview of Marlats Cognitive-Behavior Model. Lcohol Research and Health Vol.23 No. 2.Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengantar Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.Partodiharjo, Subagyo. 2006. Kenali Narkoba dan Penyalagunaannya. Jakarta : ErlanggaPriyo Hastono, Sutanto. 2007. Analisis Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.Saragi, Suhartini. Understanding addiction. Makalah disajikan dalam Pelatihan CPNS Angkatan 2008, UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN. Bogor. 6 –8 Mei 2008.Sugiyono. 2011. Metode PenelitianKuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung : Alfabeta.Tanjung79@gmail.com. 14 April 2004. Narkoba,  Diakses 22 April 2011 dari  http://narkobaku.tripod.com/dampak_fisik.htmTim Visi Media. 2002. Rehabilitasi Bagi Narkoba. Jakarta : Tim Visi Media.SDM UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN. 2009. Standar Operation Procedure UPT T & R BNN. Bogor. UPT Terapi Rehabilitasi BNN.Sofyan, Ahmadi. 2007. Narkoba mengincar anak anda. Jakarta : Prestasi Pustaka.Turning Point Alcohol and Drug Centre, National Centre for Education and Training on Addiction, (1997). The Turning Point/NCETA primary care workers alcohol and drug training program : Participants workbook. Fitzroy, Victoria.UNODC (2010, Relapse management, http://www.unodc.org/pdf/india/publications/Thematic_Pamphlets_Reprints/8_relapsemanagement,.pdf, diakses 10 Januari 2011)UNODC (2005, A Centre of Hope, http://www.unodc.org/treatment/en/India_resource_centre_9.html, diakses 10 Agustus 2010). 

None found.

Advertisement

No comments.

Leave a Reply