II. Dimensi Religiusitas dan Makna Hidup Recovering Addict di UPT T&R BNN

2012562

Makna hidup tidak sekedar sesuatu sebagaimana yang kita pikirkan melainkan sebagaimana kita hayati (Sumanto, 2006: 117) Semakin mendalam penghayatan seseorang terhadap perihal kehidupan, makin bermaknalah kehidupannya. Penghayatan eksistensial adalah kedekatan dengan Tuhan; makin seseorang mendekati kesempurnaan, makin ia membutuhkan Tuhan. Penelitian  ini mengukur tujuh dimensi religiusitas (general religiosity, social religiosity, involve God, forgiveness, God as judge, unvengefulness, dan thankfulness) untuk mengetahui pengaruhnya terhadap recovering addict di BNN.

I.                   PENDAHULUAN      

Kebutuhan akan kebermaknaan sangat mendesak bagi masyarakat modern, tetapi nampaknya kurang mendapat respon dari teori normatif (Metz, 2002). Debats (1995) berpendapat bahwa makna hidup merupakan persoalan penting dalam eksistensi manusia terlebih lagi dalam masyarakat modern. Namun karena masih sedikitnya penelitian di bidang tersebut, sehingga masih diperlukan melakukan prediksi-prediksi secara teoritis (Harries dalam Sumanto, 2006).

Seligman (1998) mengatakan bahwa psikologi dapat membantu merumuskan jalan keluar bagi umat manusia untuk dapat memiliki kehidupan yang bermakna meski hidup dalam ketidakpastian dan persaingan, bisa dilakukan dengan cara memaksimalkan aspek positif dalam diri individu. Namun pada kenyataannya, banyak psikolog yang lebih memberikan perhatian terhadap aspek negatif dibanding terhadap kesehatan mental. Penelusuran Csikszentmihalyi (dalam Sumanto, 2006) pada abstrak psikologi, sejak tahun 1887 hingga tahun 1997 membuktikan bahwa artikel-artikel aspek positif dan negatif kehidupan manusia berada dalam perbandingan yang tidak seimbang; terdapat 8.072 artikel kemarahan, 57.800 artikel kecemasan, dan 70.856 artikel depresi dan hanya 851 artikel tentang kegembiraan, 2.958 artikel kesejahteraan subyektif, dan 5.701 artikel kepuasan hidup. Perbandingannya sangat jauh yaitu 7:1. Penemuan artikel-artikel tersebut merupakan bukti nyata bahwa masih sedikitnya perhatian psikolog terhadap pentingnya memaksimalkan aspek positif pada diri individu.Oleh sebab

itu penulis tertarik membahas makna hidup yang merupakan aspek positif untuk menuju kebahagiaan hidup manusia. Keinginan untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan

komponen dasar untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.Hasrat inilah yang mendorong setiap individu untuk melakukan berbagai kegiatan seperti kegiatan bekerja dan berkarya untuk bertahan hidup agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Individu akan menemukan makna bagi dirinya sendiri ketika ia menanamkan perasaan dan energi dalam aktifitas yang dapat mengekspresikan keinginan dan prioritas yang istimewa bagi individu tersebut. Menurut Fabry

(1980) salah satu dasar makna hidup adalah mengembangkan potensi individu. Sehingga usaha tersebut menunjukan adanya keingingan individu untuk memiliki kebermaknaan dalam hidupnya. Potensi individu disini diartikan sebagai kapasitas dan kualitas individu yang meningkatkan kehidupannya sendiri maupun orang lain, baik dalam hal kualitas maupun materiil

Makna hidup merupakan elemen penting dalam kesejahteraan/kesehatan mental (well-being) dan fungsi hidup manusia (Steger & Frazier, 2005). Tanpa makna hidup, tujuan, nilai, atau idealisme dalam diri individu maka akan timbul keputusasaan. Bahkan menurut Frankl, jika seseorang tidak berjuang untuk makna hidupnya maka akan mengalami eksistensi-hampa atau “meaninglessness”. Kondisi tersebut apabila berkepanjangan dapat menyebabkan “noogenic

neurosis”, suatu kondisi yang ditandai dengan gejala kebosanan dan apatisme(Sumanto, 2006).Dari pendapat-pendapat diatas menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana cara kita memperoleh makna hidup di tengah permasalahan hidup yang kian menekan.

Setiap diri kita pasti akan berhadapan dengan masalah atau yang dalam Islam disebut dengan cobaan, bisa berupa kegagalan, kesedihan dan sebagainya. Dan apapun masalah yang telah terjadi dimasa lalu maupun yang sekarang sedang dihadapi, kehidupan ini haruslah terus berjalan sebagaimana mestinya.Oleh sebab itu alangkah sayangnya jika kehidupan ini kita jalani dengan kesia-siaan atau keputusasaan apalagi hingga merasa bahwa kehidupan ini tidaklah ada

gunanya.Debat (1995) berpendapat rendahnya makna hidup individu berhubungan dengan psikopatologis (Yalom, 1980), rendahnya kesehatan mental (Reker, Peacock &Wong, 1987; Zika & Chamberlain, 1992), terjerumus kepenggunaan NAZA dan keinginan untuk bunuh diri (Harlow, Newcomb & Bentler, 1986). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi makna hidup yang pernah diteliti oleh Debats, Van der Lubbe, dan Wezeman (dalam Debats dkk,

1995) mengenai hubungan antara Life Regard Index (LRI) dengan demografis (seks, usia, pendidikan) dan karakteristik kepribadian menemukan bahwa factor demografis tidak berpengaruh, namun ditemukan pengaruh yang signifikan pada individu yang berstatus menikah dibandingkan dengan yang belum atau tidak menikah, individu yang memiliki hubungan baik dalam pernikahan dengan individu yang telah bercerai dalam pernikahan, individu yang memiliki pasangan (partner) dengan yang tidak memiliki pasangan, yang menghasilkan kesimpulan

bahwa memiliki hubungan intim (intimate relationship) menghasilkan tingginya skor positive life regard. Individu yang memiliki hubungan intim biasanya memiliki pengalaman makna hidup dibandingkan dengan yang tidak memiliki hubungan tersebut (dalam Leath ,1999).

Clinebell (dalam Hawari, 2002: 18) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pada setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual (basic spiritual needs).Bagi mereka yang beragama kebutuhan spiritual ini dapat diperoleh melalui pengalaman agama. Namun bagi mereka yang sekuler mengatasinya dengan jalan penyalahgunaan NAZA sebagai bentuk pelarian (escape reaction) karena ketidakmampuannya menghadapi kenyataan (Hawari, 2002: 17). Dapat

dikatakan bahwa individu yang mengalami kecanduan NAZA tidak berhasil menemukan orientasi intrinsik yang dapat membantunya menghadapi permasalahan hidup sehinga ia melarikan diri ke penggunaan NAZA. Program-programdi BNN membuat mereka belajar kembali fungsi kehidupan seperti pada recovering addict yang masih menjadi residen baik di fase Primary maupun Re-Entry, mereka mendapat banyak informasi baru dari yang

berbentuk sosial hingga spiritual. Mereka juga sudah dituntut untuk bertanggung jawab atas kelangsungan kegiatan sehari-hari dari mulai merapikan tempat tidur, saling mengingatkan dan menegur jika sesama mereka melakukan kesalahan, menyiapkan makan, sampai membersihkan tempat tinggal. Bahkan pada fase akhir (Re-Entry) telah diberi tanggung jawab mengawasi dan memimpin jalannya kegiatan di fase pertama (detox). Sedangkan pada staff addict mereka yang

mengawasi dan memimpin jalannya seluruh kegiatan pemulihan di BNN. Dari kegiatan bermanfaat yang dilakukan selama di tempat rehabilitasi, dapat menimbulkan perasaan bermakna pada diri recovering addict. Mereka merasa  lebih bermakna dalam menjalani hidup selama di tempat rehabilitasi, karena lebih terarah dalam menjalani keseharian. Hal tersebut serupa dengan hasil penelitian kualitatif yang pernah dilakukan di Indonesia, recovering addict yang telah berhasil pulih dari perilaku addict-nya merasa lebih dekat dengan Tuhan (religious), dan juga merasa Tuhan telah mengabulkan semua doa dan keinginannya. Mereka mencoba mencari apa

arti kehidupan yang bermakna tanpa menggunakan NAZA dan berusaha menemukan kembali makna hidup yang hilang (Junaiedi, 2009).

Contoh lain tentang makna hidup yang disaksikan sendiri oleh Frankl ketika terpenjara di „kamp maut NAZI dimana ia dihadapkan pada keadaan penuh siksaan, teror, dan pembunuhan kejam oleh tentara NAZI terhadap warga Yahudi. Namun ternyata ditengah penderitaan tersebut Frankl menemukan sebagian tahanan yang tetap menunjukkan sikap tabah, berusaha bertahan, dan bahkan tetap berusaha membantu sesama tanpa mengalami putus asa, apatis dan kehilangan

semangat hidup, mereka pun tidak melakukan bunuh diri guna membebaskan diri dari penderitaan. Para tahanan tersebut adalah mereka yang berhasil mengembangkan dalam diri mereka harapan-harapan baik akan hari esok dan masa depan, serta meyakini datangnya pertolongan Tuhan dengan berbuat kebajikan, berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan mereka „meaning in suffering‟ (Teori Frankl ebook).

            Dapat dikatakan bahwa makna hidup dapat muncul tanpa adanya kesejahteraan (Debats, 1990; King & Napa, 1998 dalam Sumanto, 2006). Frankl pun berpendapat bahwa hidup dalam penderitaan tidak menghalangi individu untuk tetap memiliki kehidupan yang bermakna (Earnshaw, 2004) selama mereka dapat menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan yang dialami „meaning in suffering‟. Seperti merasa bersyukur karena telah diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk selamat (tidak meninggal karena over dosis),

diijinkan untuk berubah menjadi lebih baik serta bermakna bagi rekan sesama pecandu. Sehingga bisa dikatakan, menemukan makna hidup adalah saat kita memiliki kekuatan intrinsik yang dapat membantu kita menghayati sebuah penderitaan, sampai kita berhasil mendatangkan pengalaman emosi positif dari penderitaan tersebut.

William James berpendapat kekuatan intrinsik tersebut bisa didapat dari agama yang dapat memberikan energi spiritual, dapat menggairahkan semangat hidup, meluaskan kepribadian, memperbarui daya hidup, dan memberikan makna dan kemuliaan baru pada hal-hal yang biasa dalam kehidupan. James juga mengatakan bahwa agama adalah sumber kebahagiaan (Rakhmat, 2003). Dalam Adler (1997) menyatakan bahwa makna hidup individu berhubungan dengan kuatnya kepercayaan terhadap suatu agama (religious belief), keanggotaan pada

sebuah kelompok, pengabdian pada sebuah sebab, nilai hidup, dan tujuan hidup yang jelas (Yalom, 1980; in Zika & Chamberlain, 1992).

II.                Makna hidup 

a.      Pengertian Makna hidup

Menurut Frankl, manusia dalam menjalani hidup tidaklah untuk mengurangi ketegangan agar memperoleh keseimbangan, melainkan mengarahkan dirinya sendiri menuju tujuan tertentu yang layak bagi dirinya yaitu memiliki makna hidup. Dalam kehidupan ini, mungkin saja kita tidak berhasil memenuhi atau mengetahui makna hidup yang sedang dijalani. Hal tersebut antara lain karena kurang disadari bahwa dalam kehidupan itu dan dalam pengalaman masing-masing terkandung makna hidup potensial yang dapat ditemukan dan dikembangkan.

Ketidakberhasilan menemukan dan memenuhi makna hidup dapat menimbulkan semacam frustrasi atau kehampaan yang disebut existensial frustration/existensial vacuum. Gejala utamanya berupa penghayatan hidup tak bermakna (meaninglessness), hampa, merasa tidak memiliki tujuan hidup, merasa hidup tidak berarti, bosan (boredom)- ketidakmampuan membangkitkan minat, dan apatis (apathy)- ketidakmampuan mengambil prakarsa.

 b.      Logoterapi

Sekilas mengenai Logoterapi, menurut Frankl (dalam Bastaman, 1996) logoterapi berasal dari kata logos berasal dari bahasa Yunani yang berarti makna. Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut.

Frankl (dalam Schulenberg SE, MeltonAMA, 2008) mengembangkan sebuah teori dan teknik yang disebut Logoterapi, menemukan prinsip bahwa memiliki alasan untuk menjalani (tujuan atau makna) dibutuhkan untuk membimbing kita menuju kehidupan yang berharga (van Deurzen-Smith, 1997; Frankl, 1959/1985). Logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga konsep filosofis yang memiliki hubungan erat dan saling mempengaruhi, yaitu: (1) Kebebasan Berkehendak (Freedom to Will), (2) Keinginan akan Makna (Will to Meaning), (3) Makna hidup (Meaning in Life).

c.       Karakteristik Makna Hidup

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, berikut akan dijelaskan mengenai karakteristik makna hidup sebagaimana dikonsepkan oleh Frankl (dalam Bastaman, 1996 hal.14), yaitu:

(1) Makna hidup sifatnya unik dan personal. Artinya apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu berarti pula bagi orang lain. Demikian pula hal-hal yang dianggap penting dapat berubah dari waktu ke waktu.

(2) Kongkrit dan spesifik, yakni makna hidup dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan sehari-hari, serta tidak usah selalu dikaitkan dengan hal-hal yang serba abstrak filosofis dan idealis atau kreativitas dan prestasi akademis yang serba menakjubkan.

(3) Memberi pedoman dan arah, Artinya makna hidup yang ditemukan oleh seseorang akan memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukannya sehingga makna hidup seakan-akan menantang (challenging) dan mengundang (inviting) seseorang untuk memenuhinya.

Dalam kehidupan ini tidak selalu menawarkan kesenangan dan ketenangan. Tetapi sebagai keseimbangan, kehidupan ini juga menyediakan ketegangan dan penderitaan. Oleh arena itu, makna hidup harus dicari dan dipenuhi, serta tantangan atau permasalahan hidup yang ada harus dihadapi dan dijawab. Hal ini terjadi karena setiap orang menginginkan dirinya menjadi orang yang berguna dan berharga bagi keluarga, lingkungan masyarakat, serta bagi dirinya sendiri.

Metode-metode Makna Hidup

Metode-metode untuk menemukan makna hidup berdasarkan Logoterapi (Bastaman, 1996), sebagai berikut :

1. Pemahaman Pribadi (Self Evaluation)

Mengenali secara objektif kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan lingkungan, baik yang masih merupakan potensi maupun yang telah teraktualisasi untuk kemudian kekuatan-kekuatan itu dikembangkan dan kelemahan-kelemahan diperbaiki dan dikurangi.

2. Bertindak Positif (Acting as if)

Mencoba menerapkan dan melaksanakan dalam perilaku dan tindakan-tindakan nyata sehari-hari yang dianggap baik dan bermanfaat.Bertindak positif merupakan kelanjutan dari berfikir positif.

3. Pengakraban Hubungan (Personal encounter)

Secara sengaja meningkatkan hubungan yang baik dengan pribadi-pribadi tertentu (misalnya anggota keluarga, teman, rekan kerja, tetangga), sehingga masing-masing merasa saling menyayangi, saling membutuhkan dan bersedia bantu-membantu.

4. Pengalaman Tri-Nilai (Exploring human values)

Berupaya untuk memahami dan memenuhi tiga ragam nilai yang dianggap sebagai sumber makna hidup yaitu nilai-nilai kreatif (kerja, karya), nilai-nilai penghayatan (kebebasan, keindahan, kasih, iman), dan nilai-nilai bersikap (menerima dan mengambil sikap yang tepat atas derita yang tidak dapat diselesaikan).

5. Ibadah (Spiritual encounter)

Ibadah merupakan upaya mendekatkan diri pada Sang Pencipta yang pada akhirnya memberikan perasan damai, tentram, dan tabah. Ibadah yang dilakukan secara terus-menerus dan khusuk memberikan perasan seolah-olah dibimbing dan mendapat arahan ketika melakukan suatu perbuatan.

Alat ukur Konsep Makna Hidup

Frankl menemukan sejenis gangguan neurosis baru yang terjadi karena keadaan penghayatan hidup tanpa makna (existential frustation) yang berlangsung intensif dan berlarut-larut tanpa penyelesaian tuntas. Gangguan tersebut dinamakan oleh Frankl dengan neurosis noogenik (noogenic neurosis) (Bastaman, 1996). Namun Frankl hanya melakukan pengukuran informal dan tidak melakukan pengukuran kuantitatif atas kondisi tersebut (Koeswara, 1992).

Kemudian mereka menghasilkan beberapa alat tes sehingga untuk mengetahui penghayatan hidup yang bermakna atau tidak, dapat dilakukan dengan pendekatan psikometrik, salah

satunya yang paling relevan sebagai usaha untuk mengukur makna hidup adalah dengan Purpose in Lifetest (PIL) (Melton & Schulenberg, 2008).

PIL test ini berupa skala sikap (attitude) yang dirancang untuk mengungkap respon-respon yang diyakini berkaitan dengan atau merupakan petunjuk bagi seberapa tinggi individu mengalami hidupnya bermakna. Pada PIL seseorang yang dianggap menghayati hidup bermakna dapat dilihat dari aspek-aspek berikut ini: (1) Tujuan hidup (purpose in life), (2) Kepuasan hidup (life satisfaction), (3) Kebebasan (freedom), (4) Sikap terhadap kematian, (5) Pikiran tentang bunuh diri,, (6) Kepantasan hidup.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Makna hidup

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi makna hidup yang pernah diteliti oleh Debats, Van der Lubbe, dan Wezeman (1993) mengenai hubungan antara Life Regard Index (LRI) dengan demografis (seks, usia, pendidikan) dan karakteristik kepribadian menemukan bahwa faktor demografis tidak berpengaruh, namun ditemukan pengaruh yang signifikan pada individu yang berstatus menikah dibandingkan dengan yang belum atau tidak menikah, individu yang memiliki hubungan baik dalam pernikahan dengan yang telah bercerai, serta individu yang memiliki pasangan (partner) dengan yang tidak memiliki pasangan.

Kesemuanya menghasilkan kesimpulan bahwa memiliki hubungan intim (intimate relationship) menghasilkan tingginya skor positive life regard. Individu yang memiliki

hubungan intim biasanya memiliki pengalaman makna hidup dibandingkan dengan yang tidak memiliki hubungan tersebut (Colin Leath, 1999).

III.             Religiusitas

a.      Pengertian Religiusitas

Harun Nasution (dalam Jalaludin, 2000: 12) merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-Din, religi (relegare, religere), dan agama.Al-din (semit) berarti undang-undang atau hukum.Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Adapun kata agama tediri dari a= tidak; gam= pergi mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi turun temurun.

Definisi menurut James menekankan pada perasaan dan pengalaman beragama. Menurutnya, agama memberikan energi spiritual, dimana agama dapat menggairahkan semangat hidup, meluaskan kepribadian, memperbarui daya hidup, dan memberikan makna dan kemuliaan baru pada hal-hal yang biasa dalam kehidupan. Orang yang beragama akan mencapai perasaan tenteram dan damai. James juga mengatakan bahwa agama adalah sumber kebahagiaan (dalam Rakhmat, 2003).

Dari istilah agama dan religi muncul istilah keberagamaan dan religiusitas (religiosity) yang berarti seberapa jauh pengetahuan, kokohnya keyakinan, pelaksanaan ibadah dan kaidah, serta penghayatan atas agama yang dianutnya (Nashori, 2002: 71). Religiusitas dapat mempengaruhi manusia dalam bertindak dan bertingkah laku, semakin kuat religiusitas seseorang, semakin kuat pula seseorang tersebut dalam mengontrol setiap tindakan dan tingkah lakunya (Thouless, 1995).

b.      Dimensi Religiusitas

`           Kendler dkk mencoba mengukur religiusitas maupun spiritualitas secara luas, dan menurutnya religiusitas dan spiritualitas adalah hal yang tidak bisa dipisahkan karena mereka saling berhubungan satu sama lain (Kendler dkk, 2003: 499). Kendler dkk mencoba mengembangkan teknik analisis keberagamaan menjadi lebih mudah dengan menguraikannya menjadi beberapa dimensi untuk mendapatkan hasil yang lebih representatif (Kendler dkk, 2003). Dimensi religiusitas tersebut terdiri dari tujuh dimensi :

1.      General Religiosity ‘coping religious

Merefleksikan tentang (1) perhatian dan keterlibatan individu dengan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual, seperti menghayati (sensing) keberadaan mereka selama di alam semesta; (2) serta keterlibatan aktif dengan Tuhan dalam  kehidupan sehari-hari maupun ketika sedang bertemu masalah (krisis).

Dimensi awal ini tidak bisa dipisahkan dengan apa yang selama ini kita istilahkan dengan coping religious (Kendler dkk, 2003: 499). Dimensi ini terdiri dari 12 aitem (Daily Spiritual Experiences & Religious Coping) milik Pargament dalam ebook Fetzer Institute(1999), lima aitem dari penelitian Kendler sebelumnya mengenai Personal Devotion & Conservatism (1997), 12 aitem mengenai Religious Attitudes & Practice Inventory (D‟Onofrio dkk, 1997), satu

aitem yang dikembangkan sendiri oleh Kendler dkk mengenai Love and caring.

Kendler menggunakan tujuh aitem religious coping dari dimensi religiusitas Pargament (dalam Fetzer, 1999: 43), dimana religiouscoping dapat dijadikan sebagai metode penghubung antara variabel global (seperti, sifat intrinsik keagamaan, frekuensi beribadah, dan frekuensi kehadiran pada tempat peribadatan) dengan peristiwa penyebab stress. Karena saat individu sedang dalam masa krisis (berhadapan dengan masalah), mereka akan menjadikan agama

sebagai cara untuk membantunya menyelesaikan masalah. Metode ini disebut dengan religious/spiritual coping, dan metode ini dapat berfungsi lebih cepat dan proksimal dalam memberikan implikasi terhadap kesehatan.Menurut Pargament (1998) dalam Fetzer Institute (1999: 45) menjelaskan bahwa ada tiga jenis coping  religius dalam proses penyelesaian masalah, yaitu:

1. Berserah diri(Deferring Style), yaitu meminta penyelesaian masalah kepada Tuhan saja. Yaitu dengan cara berdoa dan meyakini bahwa Tuhan akan menolong hamba-Nya dan menyerahkan semua keputusan kepada Tuhan.

2. Kolaborasi(Colaborative Style), yaitu hamba meminta solusi kepada Tuhan

dan hambanya senantiasa berusaha untuk melakukan coping.

3. Mengandalkan Kemampuan Sendiri(Self-directing Style), yaitu individu bertanggung jawab sendiri dalam menjalankan coping.

Aitem yang digunakan pada dimensi Daily Spiritual Experiences berasal dari:

–           Hubungan dengan transenden (Connection with the Transcendent),tertuju kepada individu yang mengalami hubungan dengan transenden sebagai keintiman personal, dan individu yang menggambarkan perasaan kesatuan sebagai penghubung mereka dengan transenden.

–                      Perasaan mendapat dukungan dari transenden (Sense of Support from the Transcendent „Strength and Comfort, Perceived Love), perasaan ini diekspresikan melalui tiga cara, namun yang diambil pada dimensi ini hanya dua; Kekuatan dan kenyamanan (Strength and Comfort) menggambarkan dukungan sosial dari Tuhan dan Menerima kasih sayang (Perceived Love), individu dapat percaya bahwaTuhan mencintainya.

–           Perasaan kagum (Sense of Awe), aitem ini berusaha menangkap cara dimana individu mengalami pengalaman transenden. Rasa kagum ini dapat timbul dari keindahan alam, manusia, atau langit dimalam hari, dan memiliki kemampuan untuk merasakan pengalaman spiritual yang melintasi batasbatas agama maupun individu yang tidak beragama (van Kaam, 1986 dalam

Fetzer 2003).

–           Perasaan keutuhan (Sense of Wholeness „internal integration), aitem ini berusaha untuk mengetahui kesejahteraan psikologis individu. Rasa keutuhan ini akan lebih sulit dialami jika individu dalam keadaan yang tidak sesuai, seperti sedang merasa kesulitan, stres atau depresi.

2.      Sosial Religiosity (Religious ‘sosial support’)

Pada dimensi ini merefleksikan tingkat interaksi dengan individu religius lainnya, seperti frekuensi kehadiran di tempat beribadah, dan perilaku tentang obat-obatan terlarang (NAZA) dalam sudut pandang agama. Sehingga dimensi ini disebut sosial religiosity.Sosial religiosity dianggap sama dengan apa yang kita istilahkan dengan religioussosial support (Kendler et.al dkk, 2003: 499).

Jika menurut Pargament (dalam Fetzer, 2003: 45) Religious Support adalah usaha untuk mendapatkan pertolongan dari pemuka agama atau anggota sesama agama. Subskala Religious Attitudes & Practice Inventory yang digunakan pada dimensi ini adalah:

Social Support (tujuh aitem), dukungan sosial pada penelitian ini didapat dari rekan sebaya dalam keagaaman (peer religiousness), yang menghubungkan antara kepercayan teistik dan kegiatan religius/spiritual pada penyalahguna obat-obatan.

Spirituality (satu aitem), terpisah dari orientasi ilmu teologi yang peryataannya berpusat pada kepercayaan terhadap Tuhan.

Religious views on Drug Use (tiga aitem), item ini berfokus pada masalah perilaku orang dewasa yang menyalahgunakan obat-obatan, alkohol, dan mengkonsumsi cerutu.

3. Keterlibatan Tuhan (Involve God)

                Merefleksikan sebuah kepercayaan terhadap keterlibatan  uhan yang secara aktif dan positif dalam urusan manusia (sehari-hari). Pada dimensi ini Kendler menggunakan :

– Satu aitem Religious Attitudes and Practices Inventory (theism) (D‟Onofrio B. Murelle L; Eaves LJ; McCullough ME; Landis JL; Maes H; 1999) yang mengukur kepercayaan pada Tuhan.Satu aitem God as love (Hertel BR; Donahue MJ; 1995) yang merefleksikan bahwa Tuhan mencintai makhluknya apa adanya.

-Dua aitem yang dikembangkan sendiri oleh Kendler, karena Kendler tidak menemukan aitem yang memuaskan untuk melengkapi pengukuran dimensi ini, sehingga akhirnya Kendler dkk mengembangkan aitem sendiri yang berasal dari skala „Nature of God‟ yang merefleksikan tingkat penerimaan keterlibatan Tuhan terhadap ciptaannya (manusia dan alam semesta) (2003:

497).

– Satu aitem dari penelitian Kendler sebelumnya (1997) yang merefleksikan sebuah kepercayaan akan adanya Tuhan maupun alam semesta (personal conservatism).

– Satu aitem Religious/Spiritual Coping (Religious Doubt) dalam Fetzer Institude (1999: 49), yang menggambarkankepercayaan akan adanya Tuhan.

4. Forgiveness (sikap memaafkan)

Pada penelitian ini konsep forgivenesstermasuk pada dimensi religiusitas dari Kendler dkk, dimana Kendler dkk menggambarkan forgiveneess sebagai sikap perhatian, cinta kasih, dan memaafkan kepada sesama (dunia), sehingga dimensi ini tidak memunculkan istilah Tuhan karena ingin mengukur sikap memaafkan terhadap sesama individu (Kendler dkk, 2003: 498).

Pada dimensi ini semua aitemnya merupakan buatan Kendler dkk sendiri yang terdiri dari dua jenis subskala yaitu:

– Aitem positif yang berasal dari skala cinta kasih dan perhatian (love and caring), merefleksikan kasih sayang maupun kepedulian terhadap sesame individu dan kepercayaan bahwa saat individu berlaku baik terhadap sesame maka ia juga akan diperlakukan baik oleh individu lainnya.

– Aitem sikap memaafkan lawan rasa dendam (forgiveness vs revenge), merefleksikan usaha untuk memaafkan seseorang/ sesuatu hal yang telah sangat melukai perasaan kita.

5. Tuhan sebagai Penetap Takdir (God as judge).

Pada dimensi ini menegaskan tentang takdir dan hukum alam ketuhanan. Enam aitem pada dimensi ini mengandung kata „Tuhan‟ tapi berbeda dengan dimensi ketiga.Sedangkan sisanya terdiri dari tiga aitem sub-skala mengenai „Tuhan sebagai Maha Penguasa‟ dari skala „Gambaran Tuhan(God Images)‟.

Secara keseluruhan, item dalam dimensi ini menggambarkan tentang kepercayaan bahwa Tuhan akan memberi ganjaran dari apa yang telah kita lakukan, seperti saat kita melakukan hal baik maka Tuhan akan memberikan pahala, sebaliknya saat kita melakukan kesalahan Tuhan akan memberikan hukuman.

6. Rasa Tidak Dendam (Unvengefulness)

Merefleksikan sikap individu yang lebih memilih untuk melakukan pembalasan pribadi (balas dendam) dibanding memaafkan terhadap dunia. Dengan rincian, aitem-aitem ini diambil dari skala memaafkan lawan rasa dendam (forgiveness vs revenge) yang merefleksikan sikap sakit hati/dendam terhadap apa yang menimpa individu tersebut. Tiga aitem bersyukur lawan rasa tidak bersyukur (gratitude vs ingratitude)yang merefleksikan rasa tidak syukur dan egois atas apa yang telah terjadi pada diri individu tersebut.

Pada dimensi ini hampir semua aitemnya dikembangkan sendiri oleh Kenneth S. Kendler dan Michael E.McCullough dan juga dibuat dalam bentuk negatif. Untuk kekonsistenan, dimensi ini akan di skoring dengan cara aitem positif sehingga diberi nama dimensi Rasa Tidak Dendam (unvengefulness).

7. Bersyukur (Thankfulness)

Dimensi ini terdiri dari empat aitem bersyukur lawan tidak bersyukur (gratitude vs ingratitide)yang McCullough kembangkan sendiri untuk mengukur dimensi ini, aitem tersebut merefleksikan perasaan terima kasih berlawanan dengan marah (thankfulness vs anger) terhadap kehidupan dan Tuhan. Dimensi ini juga berasal dari aitem Religius Copingpada pengukuran multidimensional dari Fetzer Institute (1999: 13), dimana dimensi ini sebagai aspek spiritual yang sangat berhubungan dengan cara pandang kehidupan dari psikologi positif. Karena hubungan antara bersyukur „gratitude dan keadaan kehidupan, stressor eksternal dapat mengubah perasaan bersyukur seseorang.Dan yang menjadi hal penting adalah, saat seseorang dapat tetap merasa bersyukur dalam situasi yang tidak baik bagi dirinya.

IV.             Recovering addict

1.       Adiksi (Addiction)

MacAndrew (dalam Hewit, 2007: 23) menyatakan bahwa addiction atau adiksi berasal dari bahasa Latin addictus, yang berarti memberikan perintah, sebab pengekangan atau  pengendalian. APA (1994) memberikan pula definisi addiction sebagai perilaku berlebih dimana individu memiliki kontrol yang merusak dengan konsekuensi yang berbahaya. BNN (2009: 147) menyatakan bahwa adiksi adalah suatu penyakit bio-psiko-sosial, artinya melibatkan faktor biologis, psikologis dan sosial. Gejala-gejala yang diberikan adiksi khas serta bersifat kronik (lama) dan  progresif (makin memburuk jika tidak ditolong). Gejala utamanya antara lain:

1. Rasa rindu dan keinginan kuat untuk memakai sehingga bersifat kompulsif terhadap narkoba atau pengubah suasana hati lain,

2. Hilangnya kendali diri terhadap pemakaiannya,

3. Tetap memakai walaupun mengetahui akibat buruknya,

4. Menyangkal adanya masalah (BNN, 2009: 147).

Adiksi bukan terjadi akibat kelemahan moral, walaupun ada hubungannya dengan masalah moral atau kurangnya kemauan dan walaupun ia harus memutuskan untuk berhenti memakai agar pulih. Adiksi mempengaruhi keadaan jasmani, perilaku dan kehidupan sosialnya. Pengaruh tersebut harus dilihat sebagai bagian dari penyakit. Penyakit adiksi berlangsung kronis.

 

Proses seseorang menjadi ketergantungan dapat digambarkan seperti seorang yang menembus tembok. Pada tahap pemakaian ia masih dapat  mengehentikannya. Jika telah terjadi ketergantungan, ia sulit kembali ke pemakaian sosial, berapa pun ia berusaha, kecuali jika menghentikan sama sekali pemakaiannya (abstinensia) (BNN, 2009: 37).

 Pemulihan (Recovery)

Pengertian recovery atau pemulihan dalam konteks 12 step model of addiction adalah kondisi berhenti sepenuhnya (abstinensia) dari perubahan mood yang diakibatkan oleh zat (kafein dan beberapa obat lainnya). Selain itu Granfield &  Cloud (dalam Hewit, 2007: 24) mendefinisikan recovery sebagai penghentian perilaku yang berhubungan dengan kebiasaan atau penggunaan yang merusak dari penyalahgunaan zat. Selanjutnya recovery dapat berarti “bersih” dari adiksi,

“pantang” dari penggunaan obat-obatan, atau “pengampunan” dari tahapan ketergantungan obat-obatan. Teori tentang recovery juga menjelaskan bahwa recovery adalah sebuah proses untuk mencapai dan memelihara kondisi berhenti sepenuhnya dari penggunaan obat-obatan yang tidak berhubungan dengan treatment tertentu (Wesson dkk, 1986: 14).

Pemulihan adalah upaya yang dilakukan secara bertahan, untuk mempelajari keterampilan baru dan tugas-tugas yang mempersiapkannya  menghadapi tantangan hidup bebas tanpa narkoba. Jika gagal, ia beresiko untuk relaps (kambuh). Pemulihan dimulai dengan berhenti menggunakan narkoba (abstinensia). Akan tetapi, tidak cukup hanya berhenti memakai, gaya hidup juga

harus berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi mempengaruhi keadaan tubuh, jiwa dan rohaninya, mengubah gaya hidupnya dengan hidup sehat dan memuaskan. Proses ini disebut “pemulihan seluruh pribadinya”. Hal yang harus dipulihkan dari para pecandu antara lain fisik, psikologis, sosial, rohani,  okupasional (pekerjaan) dan pendidikan (BNN, 2009: 152)

V.                KESIMPULAN 

Berdasarkan proporsi varians seluruhnya, variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini (dimensi religiusitas dan latar belakang status pernikahan) memberikan sumbangan terhadap makna hidup sebesar 27.3%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini. Sehingga kesimpulannya dapat dikatakan sebagai berikut :

1. Terdapat pengaruh yang signifikan dari dimensi religiusitas (general religiosity, social religiosity, involve God, forgiveness, God as judge, unvengefulness, dan thankfulness) dan status pernikahan terhadap makna hidup recovering addictdi BNN (hipotesis nihil ditolak).

2. Namun jika dilihat satu persatu pengaruh dari dimensi religius terhadap makna hidup, hanya thankfulness yang berpengaruh signifikan terhadap makna hidup recovering addict di BNN.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2011. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.

Badan Narkotika Nasional. 2006. Modul pelatihan petugas rehabilitasi sosial dalam pelaksanaan program one stop center (OSC). Jakarta. Badan Narkotika Nasional.

Badan Narkotika Nasional. 2009. Metode Therapeutic Community. Jakarta : Badan Narkotika Nasional.

Badan Narkotika Nasional. 2003. Pedoman Terapi Pasien Ketergantungan Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya. Jakarta : Badan Narkotika Nasional.

Badan Narkotika Nasional. 2003. Pedoman Standar Pelayanan Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain (Narkoba). Jakarta : Badan Narkotika Nasional.

Dewi,M.R.2008.http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.jps?id=lokal, diperoleh 10 Februari 2011)

Hawari, Dadang. 1999. http://www.dadang-hawari.net/default.aspx?tipe=A&id=30, diakses 20 Desember 2010).

Joewana, Satya. 2005. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif. Jakarta : EGC.

Marlatt, Arlan. 1999. Relapse Pervention : An overview of Marlats Cognitive-Behavior Model. Lcohol Research and Health Vol.23 No. 2.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengantar Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Partodiharjo, Subagyo. 2006. Kenali Narkoba dan Penyalagunaannya. Jakarta : Erlangga

Priyo Hastono, Sutanto. 2007. Analisis Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Saragi, Suhartini. Understanding addiction. Makalah disajikan dalam Pelatihan CPNS Angkatan 2008, UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN. Bogor. 6 –8 Mei 2008.

Sugiyono. 2011. Metode PenelitianKuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Tanjung79@gmail.com. 14 April 2004. Narkoba,  Diakses 22 April 2011 dari  http://narkobaku.tripod.com/dampak_fisik.htm

Tim Visi Media. 2002. Rehabilitasi Bagi Narkoba. Jakarta : Tim Visi Media.

SDM UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN. 2009. Standar Operation Procedure UPT T & R BNN. Bogor. UPT Terapi Rehabilitasi BNN.

Sofyan, Ahmadi. 2007. Narkoba mengincar anak anda. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Turning Point Alcohol and Drug Centre, National Centre for Education and Training on Addiction, (1997). The Turning Point/NCETA primary care workers alcohol and drug training program : Participants workbook. Fitzroy, Victoria.

UNODC (2010, Relapse management, http://www.unodc.org/pdf/india/publications/Thematic_Pamphlets_Reprints/8_relapsemanagement,.pdf, diakses 10 Januari 2011)

UNODC (2005, A Centre of Hope, http://www.unodc.org/treatment/en/India_resource_centre_9.html, diakses 10 Agustus 2010).

 

Advertisement

No comments.

Leave a Reply