I. Pengaruh Optimisme dan Harga Diri Terhadap Psycological Well-Being Recovering Addict UPT T&R BNN Lido

sex-addict-help1

Psychological well-being merupakan pencapaian penuh dari potensi psikologis seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi yang positif dengan orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan lingkungan, dan terus bertumbuh secara personal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran psychological well-being, harga diri, dan optimisme recovering addict di UPT-T&R BNN Lido, serta pengaruh dan besarnya sumbangan dari optimisme, harga diri, dan faktor demografis yang diteliti terhadap psychological wellbeing dan masing-masing dimensinya.

A.  PENDAHULUAN

Narkoba merupakan singkatan dari narkotika dan obat atau bahan berbahaya. Selain istilah narkoba juga dikenal istilah NAPZA yaitu narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko kecanduan. Narkoba atau NAPZA merupakan bahan atau zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh, terutama susunan syaraf pusat atau otak, sehingga jika disalahgunakan akan menyebabkan gangguan fisik, psikologis dan fungsi sosial. Penyalahgunaan

narkoba sering disebut penyakit sosial (social disease), artinya penyalahgunaan ini muncul akibat berinteraksi sosial dengan masyarakat yang menggunakan narkoba atau akibat pertemanan dengan pecandu narkoba aktif (BNN, 2009).

Untuk mengatasi situasi ini, Pemerintah membentuk badan khusus melalui Inpres No.6 tahun 1971 yang dikenal dengan Bakolak Inpres 6/71, yaitu sebuah badan yang mengkoordinasikan (antar departemen) semua kegiatan penanggulangan terhadap berbagai bentuk yang dapat mengancam keamanan Negara, salah satunya masalah penyelundupan dan bahaya narkoba. Namun, seiring dengan semakin besar tantangan yang dihadapi dalam mengatasi masalah penyalahgunaan dan peredaran narkoba secara illegal, maka Bakolak Inpres diubah fungsinya menjadi Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN) pada tahu 1977, yang kemudian diubah menjadi Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2002 (BNN, 2009).

Badan Narkotika Nasional melaporkan bahwa dari tahun ke tahun kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia terus meningkat. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari meningkatnya data kasus, seperti tahun 1999 berjumlah 1.883 kasus meningkat menjadi 3.478 kasus pada tahun 2000 dan pada tahun 2001 berjumlah 3.617 kasus. Namun demikian, data menunjukkan bahwa di seluruh dunia hanya 10% penyalahguna narkoba yang memanfaatkan pusat-pusat terapi dan rehabilitasi formal. Data menggambarkan bahwa dari 10% tersebut, hanya 5%  yang mengikuti program, dan dari yang mengikuti program tersebut banyak yang tidak menuntaskannya bahkan sekitar 80%-100% mengalami kekambuhan atau relapse (BNN, 2009). Menurut data BNN tahun pada 2008, jumlah kasus kejahatan narkoba dalam empat tahun terakhir, yaitu dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 tercatat sebesar 85.596 kasus dengan angka peningkatan ratarata

22,3% per tahun. Jumlah tersangka yang ditangkap dalam kurun waktu tersebut sebanyak  35.278 orang dengan rata-rata peningkatan per tahun 25,6%, dan sekitar 76,5% pelaku adalah usia produktif. Berdasarkan data Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia, prevalensi penyalahgunaan narkoba mengalami kenaikan sejak tahun 2009. Pada tahun tersebut, prevalensi penyalahgunaan narkoba mencapai 1,99% atau setara dengan 3,6 juta orang. Angka tersebut meningkat mencapai 3,8 juta orang atau setara dengan 2,21% jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010.

Ketergantungan secara fisik terhadap narkoba cenderung mudah diatasi. Biasanya petugas medis yang terlatih akan memberikan obat-obatan dengan golongan sejenis sebagai pengganti zat yang biasa dikonsumsi pasien untuk menghilangkan atau meminimalisir gejala putus obat yang akan terjadi karena pemutusan penggunaan zat secara tiba-tiba. Setelah gejala putus obat  (withdrawal) tidak muncul, pasien dinyatakan telah pulih dari ketergantungan  secara fisik terhadap obat-obatan terlarang tersebut. Seringkali seorang recovering addict atau seseorang pecandu yang menjalani proses rehabilitasi atau pemulihan

dari ketergantungan narkoba mengalami kekambuhan atau relapse di tengah proses pemulihan. Faktor pencetus kekambuhan yang utama adalah rendahnya komitmen untuk pulih, yang tergantung pada kondisi psikologis dan kepribadian tertentu (BNN, 2009). Oleh karena itu, seseorang yang telah berhenti menggunakan narkoba diharapkan memiliki kondisi psikologis yang baik, diantaranya ditandai dengan psychological well-being yang baik. Dengan  memiliki psychological well-being yang baik maka seorang recovering addict tidak akan mudah untuk terjerumus menggunakan narkoba kembali atau mengalami kekambuhan.

Perkembangan individu berhubungan dengan kesejahteraan hidupnya, baik itu kesejahteraan psikis maupun psikologisnya. Idealnya, individu yang berhasil menyelesaikan tugas perkembangannya akan menjadi sejahtera dan mampu untuk menjalankan tahapan perkembangan selanjutnya. Psychological well-being sendiri memiliki enam dimensi, yaitu dimensi penerimaan diri, dimensi hubungan positif dengan orang lain, dimensi otonomi, dimensi penguasaan lingkungan, dimensi tujuan hidup, dan dimensi perkembangan pribadi.

Kelompok kuliah kerja lapangan (KKL) Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di UPT T&R BNN Lido pada tahun 2010 melakukan penelitian terhadap fase entry male, primary green house male, primary house of hope male, re-entry male, dan primary female untuk mengetahui gambaran psychological well-being mereka. Berdasarkan penelitian tersebut diketahui bahwa fase entry male memiliki psychological well-being yang berada dalam kategori tinggi dengan subjek berjumlah 19 orang, sedangkan fase re-entry male dengan subjek berjumlah 39 orang, primary female dengan subjek berjumlah 16 orang, primary house of hope dengan subjek berjumlah 40 orang, dan primary green house dengan subjek berjumlah 76 orang berada dalam kategori sedang.

Fase entry merupakan fase lanjutan setelah fase detoksifikasi yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu, dan merupakan fase bagi residen untuk mempersiapkan dirinya secara fisik dan mental untuk mengikuti program terapi dan rehabilitasi selanjutnya. Fase primary merupakan fase lanjutan dari fase entry dimana tahap awal diaplikasikannya metode dengan pendekatan Therapeutic Community (TC). Pada fase primary ini dibagi menjadi dua rumah, yaitu house of hope dan green house. House of hope diperuntukkan bagi residen yang sudah pernah menjalani rehabilitasi yang berbasis metode TC atau, Narcotic Anonimous dan pernah menjalani rehabilitasi di BNN Parmadi Siwi tahun 2005 ke atas. Sedangkan green house diperuntukkan bagi residen yang belum pernah mengikuti program rehabilitasi yang berbasis metode TC. Metode TC adalah terapi berbasis sosial, dimana sekelompok orang yang memiliki permasalahan yang sama, berkumpul untuk saling membantu dalam menghadapai permasalahan yang dihadapinya atau yang biasa disebut man helping man to help himself. Fase reentry adalah tahapan yang lebih lanjut bagi residen setelah menyelesaikan fase primary, atau ada juga yang menyebutnya sebagai masa menjelang kembali ke  masyarakat nyata, dimana residen akan kembali bersosialisasi dengan lingkungan yang sebenarnya.

Pembinaan yang diberikan dalam panti rehabilitasi tidak semata-mata untuk menghilangkan kecanduan mereka terhadap narkoba tetapi juga untuk meningkatkan psychological well-being mereka agar menjadi individu yang lebih baik dan bermanfaat, dapat bertanggung jawab bagi kehidupan mereka sendiri maupun orang-orang di sekitarnya, serta dapat hidup normal seperti individu lainnya saat mereka kembali ke masyarakat serta tidak mudah untuk terjerumus kembali menggunakan narkoba. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan dalam panti rehabilitasi membuat mereka terputus dari kehidupan normal, mereka

tidak dapat berhubungan dengan dunia luar sekalipun itu keluarga dalam jangka    waktu tertentu yang secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada psychological well-being mereka selama menjalani program di panti rehabilitasi tersebut. Pengalaman sebagai individu yang sedang atau pernah menjalani proses pemulihan dalam panti rehabilitasi tidak hanya terpengaruh pada tingkah laku individu, namun juga pada bagaimana individu tersebut dapat

merealisasikan potensi dirinya. Berkaitan dengan pengaruh pengalaman, Ryff mengatakan bahwa evaluasi individu terhadap pengalaman hidupnya memiliki pengaruh yang penting terhadap psychological well-being.

Beberapa tokoh ada yang mengartikan psychological well-being sebagai kebahagiaan. Carr (2004) menyatakan bahwa optimisme, harga diri, dan locus of control sebagai trait kepribadian yang berhubungan dengan kebahagiaan. Berdasarkan pendapat tersebut peneliti mengambil beberapa aspek sebagai variabel yang diasumsikan memberi nilai lebih pada psychological well-being seseorang, yaitu optimisme dan harga diri.

Optimisme dapat membantu meningkatkan kesehatan secara psikologis, memiliki perasaan yang baik, melakukan penyelesaian masalah dengan cara yang logis sehingga hal ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh juga. Dalam sebuahpenelitian diketahui bahwa adanya hubungan antara kondisi psikologis dan fisik. Dari hasil penelitian yang lain juga menunjukkan bahwa optimism mempengaruhi kekebalan tubuh dan meningkatkan emosi positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa individu yang optimis akan memiliki kondisi fisik yang lebih baik yang juga berpengaruh pada kondisi psikologisnya yang secara langsung maupun tidak langsung pasti mempengaruhi psychological well-being.

Psychological well-being merupakan suatu hal yang penting untuk dimiliki oleh semua individu terlebih lagi bagi recovering addict. Saat seorang recovering addict tidak memiliki psychological well-being yang baik, maka akan ada kemungkinan mereka mengalami kekambuhan atau relapse, karena factor pencetus kekambuhan yang utama adalah rendahnya komitmen untuk pulih, yang tergantung pada kondisi psikologis dan kepribadian pecandu. Seseorang bisa dikatakan tidak memiliki psychological well-being yang baik jika mereka tidak bisa menerima dirinya, mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain, tidak dapat hidup secara mandiri atau berotonomi, tidak dapat berbaur serta menciptakan lingkungan yang nyaman bagi dirinya, tidak memiliki tujuan hidup, serta tidak mengalami perkembangan diri secara pribadi dengan baik. Namun, saat individu memiliki optimisme serta harga diri yang baik, maka individu tersebut akan memiliki harapan-harapan yang baik bagi masa depannya, keyakinan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tidak mudah berputus asa, dapat mengambil nilai-nilai positif yang ada dalam dirinya, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat meningkatkan psychological well-being-nya.

Selain optimisme dan harga diri, psychological well-being juga dipengaruhi oleh faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pernikahan, pekerjaan (Ryff, 1989; Keyes & Ryff, 1995; Seligman, 2005; Eddington & Shuman, 2005). Oleh karena itu, selain optimisme dan harga diri, peneliti juga ingin meneliti apakah faktor demografis dapat mempengaruhi psychological well-being recovering addict, kemudian peneliti juga menambahkan factor demografis lain yang sesuai dengan keadaan recovering addict, seperti lama penggunaan zat dan riwayat relapse.

B. Psychological Well-Being (Kesejahteraan Psikologis) dan Optimis

         1. Psychological Well-Being (Kesejahteraan Psikologis)

Ryff (dalam Keyes, 1995) menjelaskan istilah psychological well-being sebagai pencapaian penuh dari potensi psikologis seseorang dan suatu keadaan ketika individu dapat menerima kekuatan dan kelemahan diri apa adanya, memiliki tujuan hidup, mengembangkan relasi yang positif dengan orang lain, menjadi pribadi yang mandiri, mampu mengendalikan lingkungan, dan terus bertumbuh secara personal.

  • Dimensi psychological well-being

Dimensi-dimensi psychological well-being yang dikemukakan oleh Ryff (1989) mengacu pada teori positive psychological functioning (Maslow, Rogers, Jung, dan Allport), teori perkembangan (Erikson, Buhler, dan Neugerten), dan teori kesehatan mental (Jahoda). Adapun keenam dimensi psychological well-being yang dikemukakan Ryff adalah:       Pertama: Penerimaan Diri, yaitu adanya penilaian positif atas kondisi diri sendiri. Kedua: Hubungan positif dengan orang lain merupakan komponen penting dalam kesehatan mental seseorang. Ketiga: Otonomi,

Dimensi ini diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur tingkah laku, mandiri, dan kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri (self determination). Keempat: Penguasaan lingkungan, kemampuan untuk memanipulasi dan mengontrol lingkungan yang kompleks, kemampuan untuk mengembangkan dan mengubah diri sendiri secara kreatif melalui kegiatan-kegiatan fisik dan mental. Kelima: Tujuan hidup, Seorang individu perlu memiliki

pemahaman yang jelas akan tujuan hidupnya. Keenam: Perkembangan pribadi, yaitu seseorang

tidak hanya dituntut untuk mencapai karakteristik-karakteristik terdahulu, namun juga untuk melanjutkan perkembangan potensi yang dimilikinya, untuk tumbuh dan berkembang sebagai individu.

  • Faktor-faktor yang mempengaruhi psychological well-being

Dari beberapa literatur dan hasil penelitian, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi  psychological well-being seseorang, beberapa di antaranya adalah: Pertama: Optimisme, Kedua: Harga diri, Ketiga: Jenis kelamin, Keempat: Usia, Kelima: Status pernikahan, Keenam: Kehidupan social, Ketujuh: Pendidikan, Kedelapan: Pendapatan, Kesembilan: Kepuasan kerja

        2.Optimis

Carver dan Scheier (dalam Lopez & Snyder, 2005) menyebutkan bahwa definisi dari optimisme dan pesimisme tidak terlepas dari harapan seseorang terhadap masa depannya. Pemahaman dasar mengenai harapan menghubungkan optimism dan pesimisme pada expectancy-value models of motivation.

Seligman (dalam Ghufron & Risnawita, 2010) menyatakan optimism adalah suatu pandangan secara menyeluruh, melihat yang baik, berpikir positif, dan mudah memberikan makna bagi diri. Menurut Goleman (2000) optimisme, seperti harapan, berarti memiliki pengharapan yang kuat bahwa secara umum, segala sesuatu dalam kehidupan akan beres, kendati ditimpa kemunduran dan frustrasi.

a. Perbedaan antara Optimis dan Pesimis

Perbedaan mereka terletak pada cara pendekatan dalam menghadapi masalah dan tantangan yang mereka alami, dan mereka berbeda dalam tata cara serta kesuksesan dalam mengatasi permasalahan hidup. Individu yang optimis memiliki kecenderungan untuk menganggap bahwa seluruh masalah dapat terselesaikan, baik dengan satu cara maupun cara lainnya.   Di lain pihak, individu yang pesimis memiliki kecenderungan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambah buruknya masalah, dan mereka juga cenderung ragu-ragu dalam menghadapi masalah yang mereka alami (Carver & Scheier, dalam Lopez & Snyder, 2005).

b. Faktor-faktor pembentuk optimism

Seligman (1991) mencoba mengajukan tiga hipotesis utama mengenai awal terbentuknya explanatory style (gaya penjelasan), yaitu: pertama: Gaya penjelasan yang digunakan ibu, Gaya ibu berbicara mengenai dunia akan mempengaruhi gaya penjelasan anak ketika ia dewasa.. Kedua: Kritik dari orang dewasa: guru dan orang tua, Clark mengatakan bahwa kritik pesimis dari orang-orang yang dihormati seperti orang tua atau guru akan membuat seseorang segera memulai kritik terhadap dirinya sendiri dengan gaya penjelasan pesimis pula.. Ketiga: Krisis dalam kehidupan

             3. Harga Diri

Rosenberg (dalam Ryff, 1989) mendefinisikan harga diri sebagai penerimaan diri, sebuah perasaan dasar dari nilai diri. Lebih jelasnya lagi Rosenberg (dalam Guindon, 2010) menyimpulkan bahwa harga diri adalah suatu sikap yang mengacu pada objek yang spesifik, yaitu diri. Penilaian individu terhadap suatu peristiwa adalah hal yang penting dalam

menentukan apakah peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang dapat menimbulkan kebahagiaan atau tidak. Suatu peristiwa yang sama bisa diinterpretasikan sebagai peristiwa yang dapat menimbulkan ketidakbahagiaan bagi seseorang namun tidak bagi orang lain.

Beberapa tokoh ada yang mengartikan psychological well-being sebagai kebahagiaan. Carr (2004) menyatakan bahwa optimisme, harga diri, dan locus of control sebagai trait kepribadian yang berhubungan dengan kebahagiaan.

C.    PENUTUP

Berdasarkan hasil analisis data penelitian, kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan optimisme, harga diri, usia dan lama penggunaan zat terhadap psychological well-being recovering addict UPT T&R BNN Lido. Jika dilihat dari keseluruhan IV yang diteliti termasuk IV kategorik, terdapat empat IV yang memberikan pengaruh signifikan terhadap psychological well-being, yaitu optimisme, harga diri, status, dan pendidikan terakhir. Kemudian, jika dilihat pada masing-masing dimensi psychological wellbeing, diketahui bahwa ada pengaruh yang signifikan optimisme, harga diri, usia, dan lama penggunaan zat terhadap lima dimensi psychological well-being, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan perkembangan pribadi.

DAFTAR PUSTAKA 

Arikunto, Suharsimi. 2011. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik Edisi Revisi 2010. Jakarta : Rineka Cipta.

Badan Narkotika Nasional. 2006. Modul pelatihan petugas rehabilitasi sosial dalam pelaksanaan program one stop center (OSC). Jakarta. Badan Narkotika Nasional.

Badan Narkotika Nasional. 2009. Metode Therapeutic Community. Jakarta : Badan Narkotika Nasional.

Badan Narkotika Nasional. 2003. Pedoman Terapi Pasien Ketergantungan Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya. Jakarta : Badan Narkotika Nasional.

Badan Narkotika Nasional. 2003. Pedoman Standar Pelayanan Korban Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif Lain (Narkoba). Jakarta : Badan Narkotika Nasional.

Dewi,M.R.2008.http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.jps?id=lokal, diperoleh 10 Februari 2011)

Hawari, Dadang. 1999. http://www.dadang-hawari.net/default.aspx?tipe=A&id=30, diakses 20 Desember 2010).

Joewana, Satya. 2005. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif. Jakarta : EGC.

Marlatt, Arlan. 1999. Relapse Pervention : An overview of Marlats Cognitive-Behavior Model. Lcohol Research and Health Vol.23 No. 2.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pengantar Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Partodiharjo, Subagyo. 2006. Kenali Narkoba dan Penyalagunaannya. Jakarta : Erlangga

Priyo Hastono, Sutanto. 2007. Analisis Data Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Saragi, Suhartini. Understanding addiction. Makalah disajikan dalam Pelatihan CPNS Angkatan 2008, UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN. Bogor. 6 –8 Mei 2008.

Sugiyono. 2011. Metode PenelitianKuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Tanjung79@gmail.com. 14 April 2004. Narkoba,  Diakses 22 April 2011 dari  http://narkobaku.tripod.com/dampak_fisik.htm

Tim Visi Media. 2002. Rehabilitasi Bagi Narkoba. Jakarta : Tim Visi Media.

SDM UPT Terapi dan Rehabilitasi BNN. 2009. Standar Operation Procedure UPT T & R BNN. Bogor. UPT Terapi Rehabilitasi BNN.

Sofyan, Ahmadi. 2007. Narkoba mengincar anak anda. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Turning Point Alcohol and Drug Centre, National Centre for Education and Training on Addiction, (1997). The Turning Point/NCETA primary care workers alcohol and drug training program : Participants workbook. Fitzroy, Victoria.

UNODC (2010, Relapse management, http://www.unodc.org/pdf/india/publications/Thematic_Pamphlets_Reprints/8_relapsemanagement,.pdf, diakses 10 Januari 2011)

UNODC (2005, A Centre of Hope, http://www.unodc.org/treatment/en/India_resource_centre_9.html, diakses 10 Agustus 2010).

Advertisement

No comments.

Leave a Reply